Gus Baha Jelaskan Keutamaan Menyempurnakan Wudhu dan Iman kepada Allah
Senin, 27 April 2026 | 06:00 WIB
Surabaya, NU Online
Ulama kharismatik, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menjelaskan mengenai logika keimanan dan rahasia di balik syariat Islam. Dalam tausiyahnya, Gus Baha menekankan bahwa ibadah ritual seperti wudhu memiliki implikasi besar sebagai identitas spiritual di akhirat kelak.
Gus Baha menjelaskan bahwa, pada hari kiamat, malaikat mengenali umat Nabi Muhammad SAW melalui pancaran cahaya (ghurran muhajjalin) yang muncul dari bekas basuhan air wudhu.
Ia menekankan pentingnya menyempurnakan wudhu, tidak hanya sekadar sah secara minimalis, agar cahaya yang dihasilkan terang benderang. Wudhu yang tidak sempurna dikhawatirkan hanya menghasilkan cahaya kelap-kelip yang membuat identitas seseorang menjadi tidak jelas di mata malaikat, sehingga berisiko tertahan di wilayah Ashabul A’raf, yakni sebuah tempat di antara surga dan neraka.
Selain membahas ritual, Gus Baha memberikan analogi yang mengagungkan kebaikan sosial tanpa ketuhanan. Ia mengibaratkan seorang atheis yang berderma seperti seseorang yang masuk ke rumah orang lain tanpa izin, lalu membagikan isi kulkas pemilik rumah tersebut kepada orang banyak.
“Meskipun terlihat baik secara sosial, tindakan tersebut secara hukum adalah kriminal karena tidak mengakui hak pemilik rumah. Begitu pula dengan manusia yang menggunakan fasilitas alam ciptaan Allah, namun tidak mengakui eksistensi Sang Pencipta,” kata Gus Baha diberitakan NU Online Jatim.
Gus Baha juga menyoroti sifat kasih sayang Allah yang jauh melampaui standar manusia. Ia menggambarkan bagaimana manusia sering kali merasa lebih nyaman mengadu dan bertaubat kepada Allah setelah melakukan kesalahan, dibandingkan menghadapi sesama manusia saat memiliki utang. Menurutnya, agama hadir untuk membenahi, bukan menghakimi.
"Jika ada jalan rusak, itu dibenahi, bukan malah tidak dijadikan jalan," ungkapnya mengibaratkan peran agama dalam memperbaiki akhlak manusia.
Di bagian akhir, Gus Baha mengisahkan sosok Khaulah binti Tsa'labah yang tercatat dalam Surah Al-Mujadilah. Khaulah berani menggugat keputusan hukum Dhihar yang saat itu dianggap setara dengan talak, karena merasa dirugikan secara sosial dan keluarga. Keberanian Khaulah dalam memprotes ini justru menjadi pintu turunnya rahmat Allah berupa perubahan hukum yang lebih adil bagi perempuan.
Gus Baha menutup penjelasannya dengan pesan bahwa segala desain Allah memiliki hikmah tersendiri bagi keseimbangan hidup manusia.
Oleh karena itu Gus Baha mengajak jamaah untuk melihat agama tidak hanya sebagai tumpukan aturan, tetapi sebagai logika yang penuh dengan rahmat dan keadilan Ilahi.