Jombang

Napak Tilas Isyarat Pendirian NU Ikhtiar Teladani Perjuangan dan Spirit Muassis

Selasa, 6 Januari 2026 | 08:00 WIB

Napak Tilas Isyarat Pendirian NU Ikhtiar Teladani Perjuangan dan Spirit Muassis

Napak Tilas Isyarat Pendirian NU digelar oleh Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama, dari Bangkalan ke Tebuireng, Ahad (4/1/2026). (Foto: LTN PCNU Jombang)

Jombang, NU Online Jombang
Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama mengadakan Napak Tilas Isyarat Pendirian NU, Ahad (4/1/2026). Acara digelar untuk memperingati satu abad NU versi Masehi dan ikhtiar meneladani perjuangan pendiri NU.


Napak tilas diikuti ribuan warga NU, dari berbagai daerah. Perjalanan dimulai dari Bangkalan, ditandai dengan penyerahan replika tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan oleh dzurriyahnya, KH Fahruddin Aschal kepada dzurriyah KH As'ad Syamsul Arifin, KHR Azaim Ibrahimy. Kedua benda kemudian dibawa ke Tebuireng untuk diserahkan kepada dzurriyah KH M Hasyim Asy'ari, yaitu KH Abdul Hakim Mahfudz. 


Di Pesantren Tebuireng, KHR Azaim menyampaikan perjalanan Napak Tilas ini. Dimulai dari Bangkalan ke Surabaya sejauh 18 kilometer. Lalu dilanjutkan ke Jombang. "Ada yang menggunakan kereta, bus dan mobil," ujarnya.


"Banyak peserta yang berpartisipasi, baik yang terdaftar maupun yang belum terdaftar menjadi peserta Napak Tilas. Semua tetap berniat untuk mengambil keberkahan dari masyayikh NU," imbuhnya.


Kiai Azaim berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu acara ini. "Barang siapa yang mengurusi NU, aku anggap santri dan kudoakan husnul khatimah beserta keluarganya," ujarnya mengutip pesan KH Hasyim Asy'ari.


Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng, mengakui perjalanan Napak Tilas membutuhkan tenaga dan menguras pikiran.  Kiai akrab disapa Gus Kikin ini mengakui zaman pendirian NU masih sulit. "Zaman itu zaman sulit, saling membantu masyayikh dan ulama untuk memperjuangkan Indonesia," imbuhnya.


Organisasi NU, lanjutnya, berbasis di pondok besar. "Apa yang dilakukan leluhur dulu lebih berat dari yang kita lakukan. Karena pemerintah Belanda tidak ada toleransi pada bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan," tambahnya. 


Perjuangan ulama dulu jauh lebih berat dari apa yang kita perjuangkan hari ini. "Tapi perjuangan tetap harus kita lanjutkan dengan menjaga kebersamaan ukhuwah persatuan untuk menggapai ridha dari Allah swt," pungkasnya.


Selengkapnya klik di sini.