Ketum PBNU: Napak Tilas Muasis Bentuk Tabarruk atas Khidmah kepada para Pendiri NU
NU Online · Sabtu, 3 Januari 2026 | 22:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas pelaksanaan kegiatan napak tilas perjalanan para muasis Nahdlatul Ulama, khususnya jejak perjuangan Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai pembawa pesan dari Hadratussyekh Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif Bangkalan kepada Hadhratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari terkait inisiatif pendirian jam’iyah ulama yang kemudian diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
“Atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, saya menyampaikan dirgahayu napak tilas perjalanan Kiai As’ad Syamsul Arifin pembawa pesan dari Hadratussekh Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif Bangkalan kepada Hadhratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari terkait dengan inisiatif mendirikan jam’iyah ulama yang kemudian diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini,” ujar Gus Yahya, Sabtu (3/1/2026).
Gus Yahya juga menyampaikan terima kasih kepada para dzuriyah muasis NU, yakni dzuriyah Syekh Muhammad Khalil bin Abdul Latif, Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Bisri Sansuri atas inisiatif pelaksanaan napak tilas yang akan digelar pada Ahad, 4 Januari 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk tabarruk atas khidmah para muasis Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ia berharap seluruh pengampu, khudama, kader, warga NU, serta bangsa Indonesia mendapatkan limpahan barokah dari amal saleh yang telah diwariskan para muasis.
“Semoga keberadaan Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai pembawa barokah para masyaikh Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Nusantara ini senantiasa lestari, terus menjadi sumber kemaslahatan bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta bagi kemanusiaan seluruhnya,” pungkasnya.
Dari pernyataan itu, secara langsung Kiai Haji Yahya Cholil Staquf menginstruksikan akan diadakannya persiapan harlah satu abad Nahdlatul Ulama (NU) dalam merefleksikan sepak terjang dan riwayat sejarah perjuangan para kiai dan santri terdahulu.
NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya Jawa Timur oleh para ulama untuk membela Islam tradisional (Ahlussunnah wal Jamaah) dari gerakan Wahabi dan penjajahan, dipimpin oleh tokoh seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah.
Pada masa perjuangan melawan kolonialisme. Kalangan pesantren ingin membentuk wadah untuk membela kepentingan umat dan melawan penjajahan. Setelah peristiwa itu, muncul sebuah pembentukan Komite Hijaz yang diinisiasi oleh Kiai Wahab Chasbullah. Komite ini memperjuangkan perwakilan ulama Indonesia di Arab Saudi, yang memicu kesepakatan untuk mendirikan organisasi lebih besar, Nahdlatul Ulama (NU).
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua