Jombang

Rinai Hujan dan Gema Ya Jabbar: Merajut Kembali Restu Muasis Dirikan NU dari Bangkalan ke Tebuireng

Senin, 5 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rinai Hujan dan Gema Ya Jabbar: Merajut Kembali Restu Muasis Dirikan NU dari Bangkalan ke Tebuireng

KH Abdul Hakim Mahfudz mengambil tasbih dari leher KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy di Pesantren Tebuireng, Ahad (4/1/2026), simbol menerima restu pendirian NU 1 abad lalu. (Foto: LTN PCNU Jombang)

Jombang, NU Online
Rinai hujan masih turun cukup deras saat rombongan besar itu tiba di Ndalem Kasepuhan, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Rumah sederhana di jantung pesantren tua yang menyimpan jejak sejarah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.


Di pesantren inilah, 1 abad lalu, KH Raden As'ad Syamsul Arifin (Situbondo) menemui KH Hasyim Asy'ari, membawa amanat restu pendirian NU lewat tongkat dan tasbih lengkap dengan ayat Al-Qur’an dari sang guru, Syaikhona KH Mohammad Kholil (Bangkalan). Sebuah momen krusial yang menjadi titik awal lahirnya Nahdlatul Ulama.


Kemarin, sederet momen bersejarah itu dirajut kembali. Namun tentu bukan oleh para ulama terkemuka itu, melainkan dzurriyyahnya, keturunan langsung dari sang pelaku sejarah. Di antaranya, KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu KH Raden As'ad Syamsul Arifin asal Situbondo.


Memulai Perjalanan dari Bangkalan

​​​​Pagi itu, Ahad (4/1/2026), sebuah tongkat dan tasbih simbol restu dan sejarah berdirinya NU diserahkan RKH Fakhruddin Aschal, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy atau yang akrab disebut Lora Azaim.


Dengan tangannya, Lora Azaim menerima tongkat itu, tongkat yang menjadi penuntun dalam menapaki jalan panjang penuh khidmah. Sesaat kemudian, tangan tulus Kiai Aschal mulai mengalungkan tasbih itu ke leher Lora Azaim, melambangkan napas dzikir yang tak pernah terputus.

 
KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy bersama warga NU saat perjalanan menuju Pesantren Tebuireng, Ahad (4/1/2026) dalam Napak Tilas Isyarat Pendirian NU. (Foto: LTN PCNU Jombang)

Penyerahan yang hening dan khidmat itu menjadi tanda dimulainya napak tilas, sebuah perjalanan menapaki jejak sejarah yang membawa misi suci restu pendirian jam'iyyah.


"Hari ini (kemarin) kita ingin mengulang sejarah itu. Kita niatkan agar semua makna, semua hikmah di balik cerita pendirian Nahdlatul Ulama hari ini bisa kita ulang untuk memperkuat kembali keberadaan jam’iyyah terbesar di Nusantara ini sebagai kendaraan besar yang akan mengantarkan umat menuju keselamatan," ungkap Kiai Aschal.


Menyusuri Rute Seabad Silam

Derap langkah ribuan jamaah mengiringi keberangkatan Lora Azaim dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan, mengikuti tapak perjuangan sang kakek 1 abad silam membawa tongkat dan tasbih.


"Inilah simbol perjalanan seorang santri dari guru ke guru, mengantarkan sebuah amanah, pesan suci untuk meneguhkan ketulusan mengawal amanah perjuangan," tuturnya penuh makna.


Ia dan rombongan menyusuri rute bersejarah. Dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Pelabuhan Kamal, Pelabuhan Tanjung Perak, Makam Sunan Ampel, Stasiun Gubeng, Stasiun Jombang, dan berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. 


Di tiap titik perhentian itu suasana terasa sakral. Ribuan jamaah ini terus melangkahkan kakinya dengan iringan dzikir "Ya Jabbar, Ya Qahhar" yang tak hentinya menggema, seakan menggugah kembali semangat juang para pendiri jam’iyyah.


"Dengan simbol tongkat dan tasbih, ayat Al-Qur’an dan Asmaul Husna Ya Jabbar, Ya Qahhar. Marilah niatkan untuk meneguhkan kembali berkhidmah kepada wadah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang kita cintai ini," pesan Lora Azaim.


Menuntaskan Amanah di Tebuireng

Langit Jombang masih basah oleh hujan saat Lora Azaim dan rombongan menginjakkan kaki di Stasiun Jombang, pukul 19.00 WIB. Saat itu juga, arak-arakan menyambut mereka menuju Pendopo Kabupaten, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tujuan puncak, Pondok Pesantren Tebuireng.


Rintik hujan tak menghalangi langkah kaki mereka. Malam itu, jalanan yang licin justru memantulkan cahaya khidmah dan dzikir yang tak henti dilantunkan. Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada muaranya, di hadapan KH Abdul Hakim Mahfudz, cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.


Dengan takdzim, Lora Azaim menyerahkan tongkat dan tasbih peninggalan sejarah. Detik itu juga, kerumunan seolah membeku. Tak ada lagi sorak bersahutan, hanya diam penuh takdzim menyaksikan momen sakral. Tongkat dan tasbih itu telah diterima, menandakan tuntasnya sebuah amanah.


Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi ikhtiar batin untuk menjaga sinar sejarah. Di tengah hujan dan malam yang dingin, langkah para dzuriyyah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan ulama belum usai, masih ada sejarah yang harus diingat, masih ada khidmah yang harus diperkuat.