Ustadz Haikal Fathurrizqi dalam agenda Istighotsah & Dakwah Sphere LD PBNU di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jl Kramat Raya No.164, Jakarta, Selasa (13/1/2026) malam. (Tangkapan Layar kanal Youtube TVNU)
Jakarta, NU Online
Suatu ketika ada seorang sahabat bertanya sekaligus meminta nasihat kepada Rasulullah saw. Seorang itu bernama Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqofi. Pertanyaan yang ia ajukan terkait suatu amalan yang dapat memuaskan dirinya, sehingga ia cukup dengan amalan tersebut.
Hadits riwayat Imam Muslim yang termaktub di dalam Shahih-nya ini disampaikan Ustadz Haikal Fathurrizqi menyambut pengantar oleh Ketua LD PBNU dalam agenda Istighotsah & Dakwah Sphere Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) di Masjid An-Nahdlah, Jl. Kramat Raya No.164, Senen, Jakarta, Selasa (13/1/2026) malam.
Menanggapi permintaan salah seorang sahabat itu, paparnya, Rasulullah lalu disebut menganjurkan dua amalan.
"Lalu Rasulullah menjawab, 'katakanlah, berimanlah kepada Allah lalu istiqamahlah'. Dalam artian, buktikan istiqamah setelah kamu ngomong iman," dorong Ustadz Haikal selepas menerjemahkan hadits ke-21 di dalam Kitab Arba'in Nawawi karya Imam Nawawi itu.
Ia menjelaskan alasan Rasulullah saw menganjurkan istiqamah bakda beriman. Menurutnya, hal ini menandakan bahwa iman tidak cukup tanpa dibarengi dengan beramal secara konstan. Dalam taraf ini, Islam disebut sangat memperhatikan keseimbangan.
"Makanya kalau kamu beriman, buktikan. Istiqamah menjalankan apa yang Allah perintah," ujarnya setelah menyebut sikap orang munafik di masa lampau yang kerap berbeda antara bibir dan hati.
Sejalan, Penceramah TV Nasional asal Batang, Jawa Tengah Ustadzah Inarotul 'Ain mengungkapkan tiga hal yang perlu diamalkan secara istiqamah. Pertama, berniat mencari ilmu dalam rangka menggapai kebijaksanaan.
"Dan yang kedua adalah selalu mencari barokah dengan cara berkhidmah, di manapun tempat dan kapan pun kita berada," kata Ustadzah alumnus Darul Amanah Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah itu.
Tak kalah penting dari semua itu, sebutnya, yakni menerima takdir Allah dengan lapang dada. Amalan-amalan tersebut ia anggap sebagai tameng untuk menjaga ritme khidmah kepada masyarakat.
"Demikian cara saya membentengi diri saya dalam berkhidmah di masyarakat," pungkas Ustadzah Inarotul.
Sebelum itu dalam pengantarnya, Ketua LD PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab) menyebut bahwa salah satu hikmah dari momentum Isra' Mi'raj yakni dapat dilihat dari aspek perjalanannya. Ia menilai, hal demikian adalah perlambang dari perhatian Islam kepada keseimbangan hidup umat manusia.
"Ternyata pesannya, di dalam kehidupan ini kalau kita ingin menjadi orang yang selamat di kehidupan dan bahagia dunia maupun akhirat maka seimbangkan isra' mi'raj-nya," tuturnya.
"Jaga hubungan yang baik dengan sesama manusia, dan juga dengan Allah. Kerjakan yang baik urusan dunia tapi jangan pernah bikin cacat urusan akhirat. Kejar akhirat tapi jangan sia-siakan dunia," tambah Gus Aab.