BNPB Catat 5.949 Titik Panas Karhutla di Kalbar, Kalsel, dan Kalteng
Senin, 24 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Petugas memadamkan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Ahad (23/8/2026). (Dok BPBD Kalimantan Selatan) 
Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, di tengah kondisi musim kering yang membuat upaya pemadaman semakin sulit.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pemantauan hotspot selama 24 jam berdasarkan satelit NASA NOAA20, NASA SNPP, dan Terra Aqua di Kalimantan Barat mendeteksi 273 hotspot dengan kepercayaan tinggi, 2.420 kepercayaan menengah, dan 81 hotspot kepercayaan rendah.
“Luas indikatif lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Barat per 19 Agustus 2026 tercatat 38.310 hektar,” ujarnya dalam konferensi pers pada Ahad (23/8/2026).
Berton mengungkapkan bahwa kondisi tersebut diperburuk kualitas udara yang berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) umumnya berada pada kategori tidak sehat.
“Jarak pandang di bawah satu kilometer di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang akibat kabut asap,” ungkapnya.
Ia menyampaikan berdasarkan perkiraan BMKG, hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada 23 hingga 29 Agustus 2026. Namun, potensi kemudahan terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai.
Sementara itu, hingga Ahad (23/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdapat 2.479 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan medium hingga tinggi di Kalimantan Tengah. Luas lahan terbakar tercatat 7.634 hektare.
“Jarak pandang di Bandara Cilik Riwut tercatat di atas sembilan kilometer,” kata Berton.
Di Kalimantan Selatan, 696 titik yang sebelumnya berhasil dipadamkan kembali memunculkan api. Keterbatasan sumber air akibat musim kering menjadi salah satu kendala utama.
“Sumber air sangat terbatas mengingat saat ini masih pada musim kering. Pemadaman menggunakan tangki air yang diangkut truk dan sumber air dari hidran untuk wilayah Banjarbaru,” ujarnya.
Berton mengungkapkan bahwa Sebagian besar titik karhutla berada di lahan gambut sehingga api sulit dipadamkan. Pemerintah juga tengah menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) pada 22 hingga 23 Agustus dengan dukungan dua patroli udara, lima water bombing, dan satu pesawat OMC.
“Melihat adanya potensi pertumbuhan awan di wilayah Kalimantan Barat, akan dilakukan operasi modifikasi cuaca,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dilakukan melalui pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan lokasi terbakar, sanksi administratif, hingga evaluasi dan ancaman pencabutan izin usaha.
“Yang sudah dilakukan pengawasan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau,” ujarnya.