Nasional

Haul Masyayikh Rembang, Gus Baha: Memuliakan Orang Alim Itu dengan Mengkaji Karyanya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Haul Masyayikh Rembang, Gus Baha: Memuliakan Orang Alim Itu dengan Mengkaji Karyanya

Gus Baha saat mengisi pengajian kitab Al-Ibriz Haul Masyayikh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang, Selasa (18/8/2026) malam. (Tangkapan layar kanal Youtube GusMus Channel)

Rembang, NU Online

Peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin diselenggarakan di area pondok pesantren yang berada di desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah pada Selasa (18/8/2026) malam. 


Dalam agenda itu, Mustasyar PBNU KH Ahmad Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) konsisten mengajak jamaah untuk memuliakan nasab orang alim dengan mengkaji karya-karya mereka. Amalan ini terus dilakukannya untuk mengikis kecenderungan membanggakan nasab tanpa diimbangi kecakapan pengetahuan.


"Kecenderungan anak, cucu atau cicit dari seorang tokoh alim yang diceritakan itu ketokohannya," kata Gus Baha.

 

Menurutnya, kecenderungan tersebut dikarenakan tidak memerlukan jerih payah dan kerumitan seperti menelusuri tokoh dari sisi keilmuan. Pada saat bersamaan, orang yang sangat alim kerap dikaitkan dengan keterbatasan finansial.

 

"Karena apabila cerita alimnya itu kesulitan, juga sering kali orang alim itu enggak terlalu punya uang. Tapi kalau ketokohan itu kan tangannya dikecup, dihormati yang akhirnya banyak cucu atau keturunan lebih pilih urusan seperti ini," ujarnya.

 

"Maka melalui ngaji seperti ini, tradisi seperti itu mulai dikurangi. Meniru alimnya dulu baru jadi tokoh. Jangan jadi tokoh terus tidak perlu alim," tutur ulama ahli tafsir al-Quran asal Rembang itu.

 

Gus Baha mengaku bahwa selain dalam forum publik, ia juga membaca dan mempelajari kitab karya ulama secara mandiri atau bersama santri. Mulai dari kitab-kitab yang berbahasa arab pegon hingga arab murni. 

 

Selain karya tulisan, Gus Baha pun mengaku tak luput belajar dari laku seseorang yang bersikap rileks, sewajarnya terhadap urusan dunia. Perilaku seperti ini, dia sebut hasil dari pendidikan yang disajikan sang ayah, KH Nursalim.

 

"Sebodoh-bodohnya guru itu yang serius. Artinya serius itu ikhlasnya. Pokoknya mengajar, serius, ikhlas sudah urusan selanjutnya itu wilayah kuasa Allah melalui hidayah," kenang Gus Baha mengutip perkataan sang ayah.

 

Dalam pada itu Gus Baha' menjelaskan validitas Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Musthafa dari sudut pemilihan makna dan ketersambungan sanad. Sudut pertama ditengarai Gus Baha merupakan hasil belajar penulis kitab kepada seorang kiai asal Rembang ahli tata bahasa Arab, KH Kholil Harun dan ketekunannya menelaah tafsir Jalalain serta Tafsir Shawi yang menjadi rujukan penafsirannya.

 

Ia pun mengemukakan bagaimana mufasir Al-Ibriz memaknai beberapa kata di awal Surah al-Muthaffifin, di antaranya kata 'alan naasi, dhann dan huwa.

 

"'Alan naas'  itu notabene artinya kan atas manusia, tapi Mbah Bisri mengartikannya dari manusia. Ini bukti kalau beliau itu belajar betul," terang Gus Baha.


"Kemudian dhanna itu saya cek di kamus-kamus itu pasti artinya menyangka, dua kemungkinan diunggulkan satu itu dhann. Tapi beliau (penulis tafsir) memaknainya dengan yakin. Ini sama dengan yang ada di tafsir Jalalain dan Shawi," tambah Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narikan, Rembang tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube GusMus Channel.