Nasional

Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian

Sabtu, 7 Maret 2026 | 18:30 WIB

Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memberikan dampak luas hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia.


Ia menekankan bahwa NU aktif membangun jalur diplomasi perdamaian dengan berbagai pihak guna mendesak terciptanya perdamaian dan solusi atas potensi konflik yang berkepanjangan.


“Kita melakukan upaya-upaya diplomatik untuk bertemu dengan berbagai pihak yang bisa mempengaruhi proses menuju jalan keluar masalah perang ini,” ujarnya di Pondok Pesantren Al Ittihad Cianjur, Jawa Barat pada Jumat (6/3/2026).


Ia juga mengungkapkan bahwa isu konflik Timur Tengah turut dibahas dalam pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto pada Kamis malam (5/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Presiden membicarakan berbagai perkembangan geopolitik, termasuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu balasan dari Iran ke pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.


“Saya ikuti undang bersama Presiden Prabowo Subianto, dan salah satunya adalah bicara tentang Dewan Keamanan yang dibentuk dan Indonesia menjadi anggotanya, bersama-sama dengan Amerika dan negara-negara Arab lainnya,” katanya.


Gus Yahya menyampaikan bahwa Prabowo menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk terus mendorong terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.


“Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya akan melakukan apapun, menempuh peluang apapun yang ada untuk mengupayakan perdamaian, khususnya perdamaian Israel-Palestina dan perdamaian di kawasan Timur Tengah,” ujarnya.


Ia mengungkapkan bahwa konflik tersebut berpotensi memicu dampak ekonomi global, terutama setelah ditutupnya Selat Hormuz dapat terganggunya pasokan energi bagi Indonesia.


“Kenapa tujuannya harus perdamaian? Karena kalau kita biarkan ini konflik terus-menerus, apalagi berkembang menjadi konflik yang lebih besar, maka di seluruh dunia ini tidak ada yang selamat,” katanya.


“Gara-gara ada perang di Selat Hormuz ini, Amerika menyerang Iran, ini suplai pasokan minyak ke Indonesia misalnya terganggu. Karena 20 persen dari pasokan minyak kita ini berasal dari Selat Hormuz,” sambungnya.


Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU berusaha mengambil peran yang lebih strategis dalam isu global, tidak sekadar menyampaikan protes atau mengirim bantuan kemanusiaan.


“Kita tidak hanya protes, marah, bahkan mengirim sumbangan kepada rakyat Palestina, tapi PBNU membangun strategi untuk ikut berperan mencari jalan keluar dari masalah Palestina. NU harus sungguh-sungguh hadir, ikut serta, berjuang di lapangan untuk mencari solusi,” katanya.


Ia menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya kepentingan negara yang sedang berkonflik, tetapi menjadi kebutuhan bersama masyarakat dunia.


“Maka perdamaian itu dalam hal ini adalah kepentingan mutlak dari semua pihak. Maka kita harus memperjuangkan perdamaian itu,” pungkas Gus Yahya.