Nasional

Prof Quraish Shihab Jelaskan Peran Akal dan Hati dalam Memahami Ajaran Agama

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:00 WIB

Prof Quraish Shihab Jelaskan Peran Akal dan Hati dalam Memahami Ajaran Agama

Prof M Quraish Shihab menyampaikan tausiyah pada peringatan Isra' Mi'raj yang diselenggarakan di Pesantren Bayt Al-Qur'an Rabu (21/01/2026), Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. (Foto: Tangkapan layar Youtube Bayt Al-Qur'an)

Tangerang Selatan, NU Online

Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Prof Muhammad Quraish Shihab menjelaskan peran akal dan hati dalam memahami ajaran agama. Menurutnya, keduanya tidak untuk dipertentangkan, melainkan ditempatkan sesuai dengan fungsi dan porsinya masing-masing.


Menurut Prof Quraish, manusia kerap memperhadapkan antara spiritualitas dan rasionalitas, antara hati dan akal. Padahal, keduanya memiliki rasio dan cara kerja masing-masing yang tidak bisa disamakan.


“Memang secara umum kita bisa berkata bahwa akal berbeda dengan hati. Tetapi kalau akal ada rasionya, maka hati juga ada rasionya,” ujar Prof Quraish, sebagaimana dikutip NU Online Jakarta.


Ia mencontohkan sejumlah fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang sulit dijelaskan dengan logika akal semata. Salah satunya adalah persoalan cinta, yang sering kali tidak sejalan dengan pertimbangan rasional.


Prof Quraish menjelaskan bahwa secara logika, seseorang yang gagah dan menarik seharusnya memilih pasangan dengan kriteria fisik tertentu. Namun dalam kenyataannya, hal tersebut tidak selalu terjadi. Demikian pula cinta seorang ibu kepada anaknya yang memiliki keterbatasan fisik.


“Seorang ibu mencintai anaknya yang cacat. Maukah ia menukar anaknya dengan anak yatim yang gagah? Tidak. Kita berkata di situ ada rasionya hati,” jelas Penulis Tafsir Al-Misbah itu. 


Lebih lanjut, Prof Quraish menegaskan bahwa akal memiliki keterbatasan, khususnya dalam melahirkan iman. Ia mengutip pandangan Syekh Abdul Halim Mahmud yang menekankan bahwa iman tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan rasional.


"Kalau kita mau bahas Tuhan dengan akal, kita tidak akan ketemu. Tapi kalau kita pakai hati kita bisa ketemu," katanya.


Tentang Isra Mi'raj

Prof Quraish mengingatkan umat Islam agar tidak keliru dalam menggunakan pendekatan ilmiah semata dalam memahami peristiwa Isra Mi'raj. Menurutnya, kesalahan sering terjadi karena ketidaktepatan dalam memilih alat untuk memahami suatu objek kajian.


Ia menjelaskan bahwa sains bekerja berdasarkan pengamatan dan eksperimen, sementara Isra Mi’raj merupakan peristiwa ghaib yang berada di luar jangkauan metode tersebut.


“Isra Mi’raj bisa diamati? Bisa dicoba? Tidak. Maka tidak mungkin kita memahaminya dengan metode sains,” tegasnya.


Karena itu, Prof Quraish menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj harus didekati dengan iman, bukan semata-mata dengan rasionalitas ilmiah. Sebab, perkara ghaib memiliki wilayah dan pendekatan tersendiri dalam ajaran agama.


“Kita harus percaya bukan karena kita tahu, tetapi justru karena kita tidak tahu,” ujarnya.


Baca selengkapnya di sini