Tokoh

H Mahbub Djunaidi, Sang Pejuang Demokrasi

Selasa, 17 Maret 2026 | 10:00 WIB

H Mahbub Djunaidi, Sang Pejuang Demokrasi

H Mahbub Djunaidi. Sumber: Penulis.

Ancaman, teror, kekerasan, dan bahkan percobaan pembunuhan yang dialami oleh sejumlah aktivis di Indonesia belum lama ini, seakan mengingatkan kita akan situasi yang sama di masa Orde Baru. Salah satu tokoh yang pernah mengalaminya secara langsung yaitu seorang penulis dan tokoh jurnalis dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), H. Mahbub Djunaidi.


Bung Mahbub, begitu ia biasa disapa oleh sahabat-sahabatnya, adalah seorang tokoh yang dengan lantang memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Perjuangannya tersebut terkadang berujung pada ancaman, teror, dan bahkan ia pernah dimasukkan ke penjara karena didakwa dengan sebuah kesalahan yang pada akhirnya tidak pernah bisa dibuktikan di pengadilan.


Dalam buku Ensiklopedi Pers Indonesia termaktub Mahbub lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933. Ia merupakan putra dari KH Muhammad Djunaidi, seorang tokoh NU dan pegawai di Kementerian Agama di masa awal negeri ini berdiri (Kurniawan Junaedhie, Ensiklopedi Pers Indonesia, [Jakarta, Gramedia Pustaka Utama: 1991], hal. 57).


Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda, dengan alasan keamanan dan sesuai Keputusan Presiden, mulai tanggal 1 Januari 1946, Kiai Djunaidi yang kala itu menjabat sebagai panitera pengganti Mahkamah Islam Tinggi (MIT), terpaksa berpindah kantor dari Jakarta ke Surakarta. Di sana, Kiai Djunaidi tinggal di daerah Kauman, tak jauh dari kompleks Masjid Agung Surakarta. (Ajie Najmuddin, KH Muhammad Djunaidi Ayahanda Mahbub Djunaidi, NU Online, 2020)


Ketika hijrah ke Surakarta, Kiai Djunaidi juga mengajak anggota keluarganya, termasuk Mahbub. Alhasil, Mahbub pun juga mesti berpindah sekolah. Ia yang kala itu berusia sekitar 13 tahun sempat dimasukkan ke sekolah partikelir Muhammadiyah.


Namun, belum genap sebulan ia pindah lagi ke SDN No. 27 Kauman, yang terletak di sebelah utara Masjid Agung dan tak jauh dari rumah keluarga Mahbub saat tinggal di Kota Bengawan. Selain bersekolah di SDN Kauman, di waktu siang hingga menjelang maghrib, Mahbub juga menimba ilmu di salah satu sekolah agama yang termasyhur di Kota Solo, Madrasah Mamba’ul Ulum.


Figur Penting Ayah

Selain pendidikan formal, sejatinya banyak tokoh yang memengaruhi pikiran Mahbub. Termasuk sang ayah sendiri. Darinya, Mahbub menemukan banyak nilai dan prinsip kehidupan. Bagi Mahbub, sosok sang ayah, KH Mohd. Djunaidi memberikan banyak teladan baginya, baik secara lisan maupun perbuatan.


Di usianya yang beranjak remaja, Mahbub menyaksikan sendiri perjuangan sang ayah sebagai seorang pejabat yang memiliki karakter penuh kesederhanaan dan komitmen. Semisal, ketika Mahbub ikut ayahnya, mengungsi ke Kota Solo di masa Agresi Militer Belanda.


Di tempat tinggalnya yang baru ini, keluarga Mahbub menempati sebuah pendopo. Meski luas, tidak ada perabot yang tersedia. Tentu, sebagai seorang pejabat tinggi, mestinya Kiai Djunaidi bisa memilih tempat yang lebih baik untuk ditinggali.


Namun, alih-alih mencari rumah yang bagus dan lengkap dengan perabotannya, ia justru tinggal di sebuah pendopo. “Berhubung pemerintah sendiri masih repot, urusan rumah bukan menjadi perhatiannya,” kata Kiai Djunaidi memberi pengertian kepada keluarganya.


Mahbub kecil tak betah belajar di sekolah, apalagi mengaji di surau, kemudian diajar sendiri oleh ayahnya. Seperti yang terangkum dalam buku Mutiara yang Tak Terlupakan: Profil Pemikiran Tokoh-Tokoh Peradilan Agama di Indonesia (Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI, 2012).


Begini, dari jam 4 sampai maghrib, kemudian habis maghrib sampai isya, akan kudahulukan nahwu-shorof. Karena menurut kiaimu, kau tak mengerti apa-apa. Bahkan maksudnya pun kau tak mengerti. Kemudian tajwid. Baca Al-Qur’an bukan seperti baca Koran yang bisa semau-maunya. Di sela-selanya kuberikan akhlak. Menurut Kiai Dimyati (guru Mahbub di Mambaul Ulum, pen), akhlakmu itu tidak lumrah, dan ini memalukan. Sebagai ekstra, kaum mesti hafal Barzanji di luar kepala,” kata Kiai Djunaidi kepada Mahbub.


Tak lupa, Kiai Djunaidi juga memberikan beberapa amalan atau ijazah wirid kepada putra sulungnya itu. “Kuberikan kau amalan, salawat Nariyah, ini perlu untuk keselamatan. Amalan itu harus dibaca 4444 kali. Begitu habis, diulang lagi, diulang lagi,” kata sang ayah seraya menyodorkan secarik kertas.


Sejak kecil Kiai Djunaidi menanamkan betul kepada putranya, untuk tidak tunduk kepada kekuasaan, lebih lagi kepada penjajah. “Tenno Heika itu seorang manusia. Jangan membungkuk sampai begitu, seperti seorang ruku’ sembahyang. Betapapun kuasanya, dia manusia,” tegurnya kepada Mahbub.


Prinsip dan nilai-nilai perjuangan yang diajarkan oleh sang ayah melekat kuat dalam ingatan Mahbub dan menjadikan karakternya sebagai seorang tokoh aktivis yang berani bersuara melawan tirani.


Pejuang Demokrasi

Sejak muda, Mahbub tertarik mengikuti berbagai macam komunitas. Mulai dari organisasi pelajar hingga saat menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia (UI). Bahkan, pada tahun 1960 ia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) yang pertama dan berlanjut hingga beberapa periode (1960-1961, 1961-1963, dan 1963-1967).


Mahbub juga berkarier di dunia jurnalistik. Namanya begitu melekat pada koran Duta Masyarakat. Bila diurutkan dari mulai berdirinya media yang dimiliki oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 1954 hingga terbitan edisi 1971, nama Mahbub Djunaidi tercatat paling lama menghiasi susunan redaksi Duta Masyarakat.


Kiprah Mahbub Djunaidi di Duta Masyarakat dimulai sejak 1959 ketika Duta Masyarakat dipimpin oleh KH Saifuddin Zuhri. Masuknya Mahbub ke Duta Masyarakat ditulis oleh Kiai Saifuddin dalam buku Berangkat dari Pesantren. Sebelum Mahbub, kawannya di PMII dan Ansor, M. Said Budairy, sudah terlebih dulu masuk Duta Masyarakat di era Asa Bafaqih.


Terjadi dialog saat Mahbub mendapatkan tawaran untuk menjadi Redaksi Duta Masyarakat (Berangkat dari Pesantren, hlm. 606). "Saya belum pernah bekerja di bagian redaksi koran apapun bagaimana caranya?" bertanya Mahbub.


"Kerjakan saja apa yang saudara bisa, nanti akan tahu sendiri apa yang mesti saudara kerjakan," timpal Kiai Saifuddin Zuhri. Rupanya, Kiai Saifuddin sudah memantau bakat menulis Mahbub Djunaidi sejak lama. Ia beberapa kali membaca tulisan Mahbub di beberapa media. Ia yakin bahwa potensi tersebut akan memberikan dampak yang bagus, baik untuk Duta Masyarakat maupun untuk Mahbub sendiri.


Pernah suatu ketika, ketika Mahbub masih menjadi Wakil Pimpinan Umum Duta Masyarakat dan bertepatan dengan pemilihan umum (pemilu) 1971. Duta Masyarakat membuat laporan khusus mengenai perolehan hasil suara di lapangan dan juga beberapa kecurangan yang terjadi. Akibat laporan khusus tersebut, Duta Masyarakat dianggap menuliskan laporan yang tidak sesuai dengan hasil penghitungan suara versi pemerintah, yang berujung pada pembredelan Duta Masyarakat.


Tak kapok dengan pengalaman tersebut. Pada masa orde baru yang represif, Mahbub masih saja berani dengan menulis beberapa artikel yang tentu bakal membuat geram penguasa. Meski demikian, Mahbub selalu dapat membungkus kritiknya tersebut dalam bahasa yang satire.


Seperti artikel berjudul "Kepemimpinan Baru, Nah!" yang dimuat di Tempo Edisi 8 Desember 1973 (Th III No. 40), Mahbub mengkritik soal gaya kepemimpinan dan demokratisasi di Indonesia:


"Malapetaka yang menimpa dunia sekarang, lantaran kita suka mengulur-ulur kenikmatan memberi instruksi, mengharap peningkatan kualifikasi teknis yang tak berkesudahan, sampai orang-orang ini sudah lewat setengah umur, dan 20 tahun mendatang segala-galanya jadi berantakan.. Yang sudah pasti, suara perihal perlu "kepemimpinan baru" itu datangnya dari mulut-mulut pemimpin jua.Dan yang belum pasti apakah bermakna pergantian fisik atau sekadar reparasi akhlak... Bukan berarti penggantian "pimpinan nasional", kata penjelasan susulan. Tapi, apa saja yang termasuk "pimpinan nasional" itu? (Mahbub Djunaidi, Kolom Demi Kolom, [Yogyakarta, IRCiSoD: 2018], hal. 56-57)


Sikap kritis dari Mahbub ini tentu sangat berdasar. Dalam perspektif keagamaan, sikap kritis bahkan ditempatkan sebagai bagian dari kewajiban moral. Al-Qur’an memerintahkan adanya sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an:


وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ


Artinya, "Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali 'Imran ayat 104)


Prinsip ini menegaskan bahwa kontrol sosial bukanlah tindakan subversif, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif menjaga kehidupan bersama. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits juga menyerukan bahwa agama adalah nasihat. Beliau bersabda:


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ


Artinya, "Nabi Muhammad bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Nabi menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam secara umum.” (HR. Muslim)


Dipenjara Karena Menyuarakan Kebenaran

Pada tahun 1977, Mahbub pernah dipenjara oleh rezim Orde Baru tanpa pengadilan. Disinyalir pada tahun itu, selain melalui tulisannya, seperti yang disampaikan HM Said Budairy, Mahbub termasuk orang yang menginginkan suksesi pada kepemimpinan nasional. Pada sebuah momen Lebaran, dari jeruji sel, ia menulis surat untuk keluarganya:


Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun juga. Papa orang yang sudah banyak makan garam hidup. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bias memikat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebih-lebihan.” (Isfandiari MD dan Iwan Rasta, Bung: Memoar tentang Mahbub Djunaidi, [Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia: 2017] hal. 74-75)


Mahbub, yang pernah memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 1965–1970, berpulang ke haribaan Allah SWT pada tanggal 1 Oktober 1995 dan dimakamkan di Bandung, Jawa Barat. Demikianlah uraian pemikiran mengenai tokoh H. Mahbub Djunaidi. Seorang tokoh jurnalis dan pejuang demokrasi. Semoga kita dapat meneladani kebaikannya. Lahu al-fatihah.


Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU.