Dimas Jayadinekat
Penulis
Malam menjelang Idul Fitri selalu memiliki cara yang berbeda dalam menyentuh hati manusia. Bukan hanya karena takbir yang perlahan mulai terdengar dari kejauhan, atau karena aroma masakan yang keluar dari rumah-rumah dengan pintu setengah terbuka, tetapi karena ada semacam perasaan pulang yang diam-diam menyusup ke dalam dada, bahkan bagi mereka yang tidak benar-benar tahu ke mana harus kembali.
Di sudut kota yang tidak terlalu ramai, namun juga tidak pernah benar-benar sepi, berdiri sebuah warung nasi goreng sederhana yang lampunya menggantung rendah, memantulkan cahaya kekuningan ke jalan yang sedikit basah oleh sisa hujan sore. Warung itu tidak memiliki papan nama besar, tidak pula daftar menu yang panjang. Orang-orang datang hanya karena lapar, lalu pergi setelah kenyang, sesederhana itu.
Di salah satu bangku kayu yang mulai kusam dimakan waktu, Arman duduk termenung. Cara duduknya tenang, rapi, hampir seperti seseorang yang terbiasa berada di tempat-tempat nyaman. Namun ketenangan itu bukan ketenangan yang lahir dari kepastian, melainkan ketenangan tipis yang biasanya muncul ketika seseorang sudah terlalu lelah untuk merasa gelisah.
Beberapa bulan sebelumnya, Arman masih hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan malam itu. Ia makan di restoran yang piringnya diganti sebelum sempat kosong, berbicara tentang rencana bisnis sambil menyeruput kopi mahal di kafe-kafe berkelas, dan menganggap waktu sebagai sesuatu yang bisa diatur sesuka hati. Ia jarang memikirkan harga, apalagi rasa lapar. Semua terasa tersedia bahkan sebelum ia menyadarinya.
Lalu hidup berubah tanpa memberi aba-aba. Mendadak tanpa disadari siapapun, termasuk Arman.
Usaha yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan minggu. Rekening yang dulu terasa tak mungkin habis perlahan mengering. Telepon yang biasanya ramai oleh tawaran kerja sama berubah menjadi sunyi yang panjang. Orang-orang yang dulu mudah ditemui mendadak sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang benar-benar salah, hanya saja dunia ternyata tidak pernah berjanji untuk tetap sama.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti kabut tipis yang tak kunjung terangkat. Arman masih bangun pagi, masih berjalan keluar rumah, masih mencoba terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam dirinya ada ruang kosong yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ruang itu tidak berisik, tidak pula menyakitkan secara jelas, hanya terasa hampa dan justru karena itulah ia jadi lebih sulit untuk dijelaskan.
Sampai akhirnya ia sampai di malam ini, malam terakhir Ramadan, dengan uang di saku yang hanya cukup untuk membeli satu piring nasi goreng sederhana.
Penjual nasi goreng di hadapannya adalah seorang lelaki tua dengan gerakan pelan namun mantap. Tidak ada yang tergesa dari cara ia menyalakan kompor, menuang minyak, atau mengaduk nasi di atas wajan panas. Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar bisa mengejarnya.
“Pedasnya biasa saja, Mas?” tanyanya tanpa menoleh, seperti sudah hafal bahwa tidak semua orang ingin terlalu banyak rasa di malam yang sunyi.
Arman mengangguk pelan. Suaranya terasa berat bahkan untuk sekadar menjawab, sehingga ia memilih diam.
Suara tumisan mulai memenuhi udara, bercampur dengan aroma bawang putih dan kecap yang menghangatkan ingatan tentang rumah, tentang masa-masa ketika makan malam bukan sekadar kebutuhan, melainkan kebersamaan yang tidak disadari nilainya.
Api kecil di bawah wajan menari pelan. Arman menatapnya cukup lama, entah mengapa merasa seperti sedang melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar proses memasak. Dulu ia sering melihat api dalam berbagai bentuk: lilin di meja restoran mahal, lampu taman di halaman rumah, atau kompor dapur yang jarang ia sentuh. Namun malam ini, api itu terasa berbeda, seolah sedang berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sedang kosong.
“Terakhir ya, Mas,” kata si penjual tiba-tiba.
Arman sedikit terkejut. “Terakhir?”
“Iya. Ini nasi goreng terakhir malam ini. Habis ini saya tutup. Besok kan Lebaran.”
Kata terakhir menggantung di udara dengan cara yang aneh. Bukan kata yang keras, tetapi cukup untuk menyentuh sesuatu yang selama ini tersembunyi dalam diri Arman. Ia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak, padahal yang terjadi hanyalah percakapan sederhana di warung kecil.
Piring nasi goreng itu akhirnya diletakkan di depannya. Tidak ada hiasan berlebihan, tidak ada nama menu yang sulit diucapkan, hanya nasi hangat, telur, dan sedikit kerupuk di sampingnya. Sesuatu yang dulu mungkin tidak akan pernah ia pilih.
Arman menatap piring itu cukup lama sebelum mulai makan. Suapan pertama terasa biasa saja, tidak istimewa, tidak pula buruk. Namun justru dalam kebiasaan itulah ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang, kesadaran akan rasa.
Ia mulai merasakan hangat nasi yang baru matang, gurih telur yang sederhana, manis kecap yang tipis namun jujur. Hal-hal kecil yang dulu selalu tertutup oleh gemerlap yang terlalu ramai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar hadir di dalam satu suapan makanan.
Ia makan perlahan, seolah-olah setiap suapan memiliki cerita yang tak ingin dilewatkan begitu saja.
Dari kejauhan, ia baru menyadarinya, ada suara takbir yang terdengar samar. Tak begitu jelas, tetapi cukup untuk membuat malam terasa bergerak menuju sesuatu yang suci.
Di tengah keheningan itu, sebuah ingatan lama tiba-tiba muncul. Tentang ayahnya, yang dulu sering berkata dengan sederhana, “Yang bikin kenyang itu bukan makanannya, Man, tapi rasa syukurnya.”
Dulu kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa. Sekarang, kalimat yang sama terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah lama terkunci.
Mata Arman menghangat. Bukan kesedihan, melainkan perasaan pulang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Nasinya kurang?” tanya si penjual.
Arman menggeleng pelan. “Tidak, Pak. Ini… sudah lebih dari cukup.”
Dan saat mengucapkan kata cukup, ia baru sadar bahwa selama ini hidupnya selalu terasa kurang bukan karena ia tidak memiliki banyak, tetapi karena ia tidak pernah benar-benar berhenti untuk merasa cukup.
Suapan terakhir tinggal sedikit. Ia menatapnya lama, seolah seluruh perjalanan beberapa bulan terakhir berkumpul di sana, kehilangan, kesepian, ketakutan, sekaligus ketenangan yang diam-diam tumbuh.
Ia memakan suapan terakhir itu perlahan.
Tidak ada peristiwa besar yang terjadi. Dunia tetap berjalan seperti biasa. Namun di dalam dirinya, sesuatu selesai dan sesuatu yang lain mulai tumbuh dengan tenang.
Takbir kini terdengar lebih jelas, mengalir lembut dari masjid ke masjid seperti gelombang yang menenangkan hati manusia.
Arman menarik napas panjang. Sudah lama ia tidak merasa ringan seperti ini.
Ia mengeluarkan uang terakhir dari sakunya dan memberikannya kepada si penjual. Lelaki tua itu menerimanya tanpa menghitung, seolah memahami bahwa malam ini bukan tentang angka.
“Saya doakan rezekinya diganti yang lebih baik,” katanya pelan.
Arman tersenyum. Senyum yang jujur, yang mungkin sudah lama tidak ia rasakan.
“Aamiin,” jawabnya lirih.
Ia berdiri dan melangkah keluar dari warung kecil itu. Langit malam tampak luas, jauh lebih luas daripada yang pernah ia perhatikan sebelumnya. Atau mungkin hatinya yang akhirnya tidak lagi sempit.
Dari rumah-rumah di ujung gang, aroma opor dan ketupat mulai tercium samar. Kehidupan sedang bersiap merayakan kemenangan kecil manusia setelah sebulan belajar menahan diri.
Arman tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia tidak tahu dari mana rezeki akan datang, atau apakah hidupnya akan kembali seperti dulu. Namun anehnya, ketidaktahuan itu tidak lagi menakutkan.
Karena malam ini ia memahami sesuatu yang tidak pernah ia pelajari saat memiliki segalanya: bahwa kehilangan kadang bukan hukuman, melainkan cara Tuhan mengosongkan tangan seseorang agar ia siap menerima hal yang lebih tenang daripada sekadar banyak.
Takbir bergema semakin dekat.
Arman berhenti sejenak, menengadah ke langit yang gelap namun terasa hangat, lalu berbisik pelan seperti menyimpan rahasia:
“Kalau ini benar nasi goreng terakhirku sebagai pribadi yang lama… semoga besok aku bangun sebagai pribadi yang baru.”
Ia tersenyum kecil.
Dan malam pun melanjutkan tugasnya dengan tenang, mengantar manusia dari lapar menuju cukup, dari cukup menuju syukur, dan dari syukur menuju pulang.
Sama seperti kita semua yang juga punya rasa ingin pulang, baik dalam arti kiasan ataupun makna sungguhan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
6
Penjelasan Kiai Afifuddin Muhajir Soal Hadis Rukyatul Hilal dari Perspektif Ilmu Nahwu
Terkini
Lihat Semua