70 Hari Pascabencana Aceh-Sumatra, Warga Terdampak Masih Hadapi Problem Ekonomi dan Hunian
NU Online · Rabu, 4 Februari 2026 | 15:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Memasuki hari ke-70 pascabencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, proses pemulihan bagi warga terdampak dinilai masih berjalan lamban. Di tengah tingginya angka pengungsian dan kerusakan, pemulihan ekonomi menjadi salah satu persoalan paling mendesak.
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPBI PWNU) Aceh, Muhadzdzier M. Salda, menilai kondisi ekonomi warga terdampak hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan.
“Mereka sudah tidak punya akses ekonomi lagi ketika menjadi pengungsi. Negara harus hadir dan membangun kepercayaan bagi warga terdampak bencana,” ujar Muhadzdzier kepada NU Online, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, hilangnya mata pencaharian membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada sektor informal dan usaha kecil yang lumpuh akibat bencana.
Ia mendorong pemerintah untuk lebih proaktif menghadirkan program pemulihan ekonomi jangka pendek. Salah satu langkah yang dapat ditempuh, kata dia, adalah melalui skema cash for work bagi warga terdampak.
“Upaya pemulihan di bidang ekonomi misalnya, pemerintah bisa membuat program cash for work. Warga terdampak diajak serta sebagai relawan dan dibayar setiap hari dalam bentuk upah. Ini memang bersifat sementara, tapi penting agar warga tetap memperoleh penghasilan harian,” jelasnya.
Selain persoalan ekonomi, Muhadzdzier juga menyoroti lambannya penyediaan hunian tetap (huntap) maupun hunian sementara (huntara). Hingga kini, kata dia, masih banyak warga yang terpaksa bertahan di tenda-tenda pengungsian, meski sebelumnya pemerintah menjanjikan pembangunan hunian rampung sebelum bulan Ramadhan.
“Hingga sekarang masih banyak warga terdampak yang tinggal di tenda, padahal Ramadhan tinggal menghitung hari,” ujarnya.
Meski di beberapa daerah pembangunan huntara mulai berjalan, Muhadzdzier berharap percepatan segera dilakukan agar warga dapat menjalani ibadah Ramadhan dengan kondisi yang lebih layak.
“Beberapa daerah memang sudah mulai dibangun huntara, tapi harapan kita memasuki Ramadhan warga bisa mendapatkan fasilitas hunian sementara yang layak. Pemerintah harus mengejar targetnya,” tegasnya.
Menjelang Ramadhan, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap tradisi meugang di Aceh yang memiliki nilai sosial dan kultural kuat. Tradisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama, khususnya bagi warga yang masih berada di pengungsian.
“Jelang Ramadhan di Aceh ada tradisi meugang. Ini juga perlu dipikirkan bersama, bagaimana penyediaan daging meugang bagi para pengungsi,” pungkasnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (4/2/2026) pukul 10.30 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat 1.204 orang, sebanyak 140 orang masih dinyatakan hilang, 102.600 orang masih mengungsi, serta 301.012 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan beragam.
Terpopuler
1
Dua Doa Khusus untuk Malam Nisfu Sya'ban Lengkap dengan Latin dan Artinya
2
Hukum Puasa pada Hari Nisfu Syaban
3
Nisfu Sya'ban: Malam Pengampunan Segala Dosa, Kecuali 4 Hal
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama Februari 2026
5
Sejumlah Amalan yang Bisa Dilakukan di Malam Nisfu Sya'ban
6
Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Sya'ban 1447 H hingga Lusa
Terkini
Lihat Semua