Asap Karhutla Makin Tebal, Jarak Pandang Pengendara di Kalimantan Terganggu
NU Online · Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:45 WIB
Asap tebal di Tualan Hulu, Kotawaringin Timur, Kalimatan Tengah pada Rabu (19/8/2026). (Foto: dok Warga)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu kabut asap tebal di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap menyelimuti permukiman hingga ruas jalan, menurunkan jarak pandang pengendara dan membuat warga harus lebih berhati-hati saat beraktivitas.
Warga Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rasta Ari Sukma, mengatakan asap akibat kebakaran sebenarnya telah muncul sejak Januari 2026. Namun, kondisi terparah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Seperti gantian gitu, misalnya di daerah Kota Samarinda, nanti di Kabupaten Berau, nanti di Balikpapan, nanti di Kotawaringin Timur. Cuma puncak asap parah itu beberapa hari ini, dari Senin kira-kira. Asap tebal banget itu kemarin,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (20/8/2026).
“Setiap hari Kalimantan tidak pernah bebas asap kebakaran selama musim kemarau, pasti ada asap kebakaran,” lanjut Rasta.
Ia mengatakan aktivitas pemadaman juga kerap terlihat di sekitar tempat tinggalnya yang berada dekat perkebunan sawit.
“Setiap hari damkar lewat di depan rumah saya. Kadang kalau kebakarannya dekat dengan rumah, saya ikut membantu memadamkan, takut kena ke rumah,” katanya.
Rasta mengungkapkan dampak asap juga dirasakan anak-anak dan orang dewasa. Warga terpaksa menggunakan masker setiap hari, sementara aktivitas sekolah dan perkantoran tetap berjalan.
“Anak-anak di sini, termasuk kami yang dewasa, setiap hari pakai masker. Masker sekali keluar, pas masuk ke rumah langsung kotor karena debu dan asapnya tebal. Sekolah dan kantor tetap masuk, cuma ya tadi harus pakai masker supaya tidak sesak napas,” tuturnya.
Ia menyampaikan gangguan paling nyata dirasakan saat warga menggunakan jalan. Menurutnya, jarak pandang ketika berkendara dapat menurun drastis akibat tebalnya asap.
“Mungkin jarak pandang ketika saya mengendarai motor hanya 10 meter karena tebal asapnya. Kita para pengendara motor ataupun mobil tidak berani ngebut karena terhalang jarak pandang,” ujarnya.
Rasta menjelaskan kondisi lahan di wilayahnya sangat kering hingga menyebabkan tanah retak. Kondisi tersebut membuat kebakaran lahan mudah merambat karena tanaman dan pepohonan mengering, sementara ketersediaan air tanah sangat terbatas.
“Di sini memang kering sekali karena tanaman atau pohon kering, sedangkan air tanahnya tidak ada. Ya sudah, cepat merambat ke mana-mana. Jadi ketika panas banget gitu, api muncul sendiri dari musim kemarau yang panas banget,” ungkapnya.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran asap karhutla terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Tengah, pemerintah daerah mencatat 603 titik panas hingga 9 Agustus 2026. Sementara itu, data BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan sekitar 4.700 titik panas di Kalimantan Timur.
Asap karhutla juga memperburuk kualitas udara dan berpotensi membahayakan kesehatan. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang kategori berbahaya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
2
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
3
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
4
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
5
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
6
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
Terkini
Lihat Semua