Banjir Rendam 20 Kecamatan di Pati, Warga Terdampak Butuh Sembako dan Obat-obatan
NU Online · Rabu, 14 Januari 2026 | 22:01 WIB
Relawan sedang membersihkan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir di Pati. (Foto: dok BPBD Pati)
Ahmad Solkan
Kontributor
Pati, NU Online
Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ribuan warga di berbagai kecamatan terdampak langsung dan membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama banjir berlangsung.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, banjir di Kabupaten Pati tergolong cukup serius karena cakupan wilayah terdampaknya sangat luas. Dari total 21 kecamatan, sebanyak 20 kecamatan dilaporkan terdampak.
“Yang merepotkan itu luasnya. Dari 21 kecamatan, 20 sudah terdampak. Ini hampir seperti kejadian banjir besar tahun 2013 atau 2014,” ucap Budi saat ditemui NU Online di kantornya, Rabu (14/1/2026).
Dia mengatakan bahwa kebutuhan mendesak warga terdampak saat ini adalah bantuan logistik berupa sembako.
“Masyarakat membutuhkan bantuan logistik atau sembako sebagai kebutuhan dasar, terutama untuk makan dan minum sehari-hari,” ujar Budi.
Selain kebutuhan pangan, Budi menambahkan bahwa warga juga memerlukan dukungan untuk pembersihan lingkungan pascagenangan banjir. Menurutnya, genangan air yang masuk ke permukiman meninggalkan lumpur dan kotoran yang harus segera ditangani.
Warga terdampak banjir juga membutuhkan layanan kesehatan dan obat-obatan. Sejumlah keluhan kesehatan mulai muncul, seperti masuk angin dan gangguan kesehatan ringan lainnya.
“Di titik-titik pengungsian yang sudah ada, selain dapur umum juga tersedia layanan fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Terkait aspek pemulihan kesehatan mental korban banjir, Budi mengakui layanan tersebut belum dilakukan oleh BPBD. Menurutnya, pemulihan psikologis menjadi kewenangan dinas kesehatan.
“Layanan kesehatan yang kami maksud lebih kepada obat-obatan umum atau ringan. Untuk pemulihan psikologi, kami belum ke arah sana. Apalagi proses belajar mengajar masih berjalan normal dan belum ada gangguan psikis pada pelajar,” terangnya.
Budi menjelaskan, meski ribuan warga terdampak banjir, sebagian besar tidak mengungsi dan memilih tetap bertahan di rumah masing-masing, meskipun air sempat masuk ke dalam permukiman.
“Hanya ada beberapa titik pengungsian, seperti di Balai Desa Doropayung, Balai Desa Bumirejo Kecamatan Juwana, serta di Masjid Kalidoro,” ujarnya.
Ia juga memastikan tidak ada kerusakan fasilitas umum akibat banjir tersebut. Fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, kantor pemerintahan, dan tempat ibadah masih dapat berfungsi dengan baik.
“Artinya, layanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan masih berjalan,” katanya.
Terpopuler
1
Pemerintah Iran Respons Protes Ekonomi dan Kebebasan Sipil di Sejumlah Kota
2
Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan
3
Gerakan Nurani Bangsa Tolak Pilkada lewat DPRD: Rakyat Harus Diberi Ruang Memilih Secara Langsung
4
Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Shalat dan Kemaslahatan Sosial
5
Kasus Keracunan MBG Terus Bertambah, JPPI Sebut Ada Upaya Pembungkaman di Sekolah
6
Apakah Nikah Siri dan Poligami Bisa Dipidana dalam KUHP Baru?
Terkini
Lihat Semua