Belajar Tanpa Guru Juga Indikator Lahirnya Radikalisme
NU Online Ā· Sabtu, 29 Februari 2020 | 22:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Lahirnya paham radikalisme dan terorisme berawal dari pemahaman dengan belajar otodidak. Yakni, tanpa adanya guru dan sanad keilmuan yang jelas. Fenomena ini sebagaimana dilakoni paham mujassimah. Salah satu aliran atau pemahaman yang menggambarkan Allah seolah-olah mempunyai tubuh, seperti punya tangan, punya wajah, punya kaki, dan seterusnya.
Demikian disampaikan Tengku Iswadi Arsyad saat didaulat menjadi pemateri dalam seminar publik deradikalisme bertema āMemperkuat Peran Lembaga Pendidikan Dayah dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme di Indonesiaā.
Seminar digelar di Aula Dayah Darur Ridha Al-Munawwarah Gampong Meuraksa, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Kamis (27/2).
Tengku Iswadi menambahkan, sosok Ibnu Taimiyah sebagai seorang yang cerdas. Namun, lebih belajar dengan otodidak sehingga lahirnya paham mujassimah-nya dan āvirusā ini tersebar di berbagai belahan dunia.
"Adanya bom bunuh diri, tindakan radikalisme, dan terorisme di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, dipelopori paham mujassimah yang pemahamannya lebih kepada tekstual saja. Tanpa mengedepankan kontekstualnya," ujarnya.
Baca juga:Ā Dayah dan Ulama Hadir di Masyarakat Turut Tangkal Radikalisme
Bahkan, lanjut Kaprodi PMI IAIA Samalanga itu, mereka memahami syariat lebih dengan logika dan menyampingkan Al-Qurāan, Hadist, Ijmaā dan Qiyas sebagaimana dilakoni mayoritas ulama Aswaja,
Pria yang juga Katib Syuriah PCNU Bireuen itu menjelaskan, dewasa ini adanya kelompok yang tergiur euforia masa lalu untuk kembali mengadopsi pemerintahan dengan slogan khilafah Islamiyah indikatornya kurang mempelajari referensi sejarah dan tidak ter-update-nya keilmuan mereka.
Selain itu, pengusung khilafah seperti HTI yang sebenarnya khilafah nubuwwah yang telah final lebih kurang 30 tahun pasca wafatnya Rasulullah Saw. Mereka dan elemennya hanya melihat Islam kepada keberhasilan masa lalu tanpa menganalisa kepada proses dan perjuangan Rasulullah.
āBeliau telah mendidik para sahabat menyiarkan ajaran Islam dengan perjuangan jihad mengobarkan darah, jiwa, dan raga. Keberhasilan Islam masa lalu belum tentu bisa diadopsi untuk sistem saat ini," sambungnya.
Di akhir paparan, intelektual muda ini menegaskan jihad fisabillah saat ini tidak lagi berperang sebagaimana masa Rasulullah dan sahabat. Jihad itu perantara (wasilah) saja.Ā
āDulu, jihad berperang. Sebab tidak ada jalan lain menyebarkan Islam. Nah, jihad di era milenial itu jihad dengan ilmu dan dakwah, tanpa harus berperang dengan senjata,ā pungkasnya.
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
4
Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Meksiko, Tidak Ada Korban Maupun Kerusakan Langsung
5
Fachry Ali Ulas Muktamar Cipasung 1994 Jadi Perlawanan NU terhadap Intervensi Pemerintah
6
Lowongan Kerja Belum Ramah Difabel, Di Mana Letak Keadilannya?
Terkini
Lihat Semua