Daerah

Beulacan Pidie, Jejak Kuliner Kelapa yang Bertahan di Bulan Ramadhan

NU Online  ·  Senin, 23 Februari 2026 | 13:00 WIB

Beulacan Pidie, Jejak Kuliner Kelapa yang Bertahan di Bulan Ramadhan

Beulacan, kuliner khas Pidie, Aceh. (Foto: dok istimewa)

Pidie, NU Online

Di dapur-dapur tua Kabupaten Pidie, Aceh, aroma kelapa sangrai bercampur rempah menjadi penanda tradisi yang terus hidup, terutama saat Ramadhan. Dari tungku kayu sederhana, lahirlah beulacan, kuliner berbahan dasar kelapa yang menjadi pengganti lauk di tengah keterbatasan ekonomi masa lalu.


Beulacan dikenal sebagai olahan kelapa parut yang diracik dengan cabai, bawang, dan aneka rempah. Pada masa harga ikan mahal, masyarakat Pidie, yang sebagian wilayahnya kini menjadi Kabupaten Pidie Jaya, memanfaatkan kelapa yang tumbuh di halaman rumah sebagai sumber pangan alternatif. Tanpa perlu melaut atau membeli lauk mahal, beulacan cukup disantap bersama nasi panas.


Sejumlah warga meyakini nama beulacan berkaitan dengan Gampong Beuracan, kampung yang disebut menjadi asal mula kuliner tersebut. Dari sana, beulacan menyebar ke berbagai wilayah Pidie dan menjadi bagian dari identitas rasa masyarakat setempat.


Hingga kini, beulacan masih dapat ditemukan di kawasan Garot, tepatnya di Gampong Pukat. Teksturnya kering namun lembut, dengan rasa gurih kelapa berpadu pedas dan harum rempah. Meski tanpa ikan atau daging, beulacan tetap menjadi pelengkap nasi yang memuaskan.


Tokoh muda Pidie, Tgk Sayuthi Nur Al-Hady, menilai beulacan merupakan bukti daya cipta masyarakat Aceh dalam menghadapi keterbatasan.


“Beulacan bukan sekadar makanan, tetapi sejarah bertahan hidup. Ia lahir dari kondisi ekonomi yang menuntut kreativitas,” ujarnya.


Menurutnya, generasi muda perlu mengenal kembali kuliner tradisional agar tidak tercerabut dari akar budaya. Di tengah maraknya makanan instan, warisan dapur seperti beulacan menyimpan nilai kesederhanaan dan kebersamaan.


Senada, Tgk Mukhlisuddin, tokoh kuliner Aceh sekaligus pengurus NU Pidie, menyebut beulacan memiliki kekayaan rempah yang khas. Ia menilai kuliner berbasis kelapa tersebut berpotensi dikembangkan lebih luas dengan kemasan modern tanpa menghilangkan jati diri.


“Sudah saatnya kuliner tradisional seperti beulacan naik kelas,” katanya.


Meski kebiasaan memasaknya di rumah mulai berkurang, beulacan tetap bertahan di pasar-pasar tradisional. Beberapa keluarga masih menjaga resep turun-temurun, sementara sebagian lainnya mulai mengemasnya dalam bentuk siap saji.


Beulacan menjadi simbol kearifan lokal Pidie: lahir dari kesahajaan, bertahan lintas generasi, dan tetap hidup sebagai bagian dari identitas rasa masyarakat, khususnya di bulan Ramadhan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang