Buya Arrazy Hasyim Tegaskan Sanad Keilmuan Pesantren Sangat Diperhitungkan
NU Online · Jumat, 11 Maret 2022 | 08:00 WIB
Kediri, NU Online
Pengasuh Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah Ciputat Jakarta Selatan, Buya Arrazy Hasyim menjelaskan bahwa Indonesia mempunyai budaya yang hebat, yakni budaya yang ada di pesantren, termasuk pola-pola kajian yang ada di dalamnya.
“Mesir tidak punya pesantren, Saudi tidak punya pesantren, Yaman baru belakangan, Al-Habib Umar buat Darul Musthofa itu angkatan pertamanya Habib Mundzir Habib Jindan," terangnya, saat peluncuran Pusat Kajian Pesantren dan Aswaja di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, disiarkan secara langsung, Rabu (9/3/2022) siang.
Dalam mendirikan Ribath Darul Mustofa Habib Umar Al-Hafidz pun, kata Buya Arrazy, terinspirasi banyak dari negeri ini meskipun secara keilmuan dan akhlak bangsa ini banyak mengambil istifadah dari Habib Umar Al-Hafidz.
Buya Arrazay mendorong pesantren Indonesia untuk tidak minder, karena secara sanad keilmuan sangat diperhitungkan. “Tidak usah merasa keder ya, sanad ulama Indonesia khususnya sanad Lirboyo ini sangat diperhitungkan,” imbuhnya.
Apalagi di pesantren ada program bahtsul masail yang bisa memecahkan berbagai permasalahan klasik. Namun, penting juga menurut Buya Arrazy agar pembahasan bahtsul masail ditekankan pada permasalahan kekinian.
Buya Arrazy mencontohkan bahwa kitab Hasiyah Syekh Zakaria Al-Anshori yang ditulis untuk menjawab persoalan pada zaman itu. Karenanya, sudah semestinya pesantren untuk melakukan pembaruan.
"Untuk zaman sekarang kita perlu membuat hasiyah-hasiyah baru, persoalan sekarang sudah tambah banyak ada persoalan lama yang muncul kembali,” tutur tokoh asal Sumatera Barat ini.
Buya Arrazy juga menegaskan bahwa negeri ini sudah tidak perlu mengimpor pemikiran dari luar Indonesia, apalagi khususnya Timur Tengah, karena keislaman di negeri ini sebenarnya sudah berasal dari Timur Tengah sana.
“Dulu yang diamalkan ulama Madinah dan Makkah sudah diamalkan oleh orang Nusantara hari ini, dan yang paling terbuka mengamalkannya itu pesantren-pesantren, maka kita perlu bangga menjadi bagian pesantren," tandasnya.
Kontributor: Elnahrowi
Editor: Syamsul Arifin
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua