Dari Bireuen ke Langkahan, LKK PBNU Hadir Memulihkan Jiwa Penyintas Banjir Aceh
NU Online · Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Utara, NU Online
Agenda Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) pada Rabu (7/1/2026) terbilang padat. Bersama Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), LKK PBNU menjalankan dua agenda kemanusiaan sekaligus di dua wilayah berbeda di Aceh.
Satu langkah berlangsung di ruang pelatihan Kota Santri Bireuen. Satu langkah lain menyentuh langsung luka terdalam pengungsian di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Dua ruang yang berbeda, namun disatukan oleh tujuan yang sama: memulihkan jiwa penyintas pascabencana.
Di Kota Santri Bireuen, suasana aula pelatihan terasa hidup. Bukan oleh gemuruh suara, melainkan oleh kehangatan interaksi yang terbangun. Di hadapan para penyuluh agama, penghulu, unsur Kemenag, serta perwakilan NU dan badan otonomnya, Psikolog Keluarga dan Pendidikan LKK PBNU, Hj. Nurmey Nurulchaq, tampil meneduhkan namun tegas.
Ia mengajak peserta memahami bahwa bencana tidak hanya merobohkan rumah, tetapi juga mengguncang keseimbangan batin manusia. “Pendampingan psikososial bukan soal memberi nasihat cepat, tetapi soal hadir dan memahami,” tutur Nurmey.
Ia menekankan pentingnya kepekaan relawan dalam membaca emosi penyintas, memilih kata yang empatik, serta menghargai kearifan lokal masyarakat Aceh yang kuat dengan tradisi kebersamaan.
Mendampingi Nurmey, Sugeng Widodo, fasilitator nasional LKK PBNU yang akrab disapa Paman, memberi warna tersendiri. Dengan gaya jenaka namun sarat makna, ia mengingatkan para relawan bahwa mereka bukan disiapkan sebagai “penyelesai masalah”, melainkan sebagai teman seperjalanan bagi para penyintas.
“Kehadiran kita adalah obat pertama. Ketika orang bisa tersenyum dan bercerita lagi, di situlah pemulihan mulai bekerja,” ujarnya, disambut senyum para peserta.
Pelatihan ini menjadi bekal penting sebelum para relawan diterjunkan ke lapangan. Mereka bukan orang asing bagi masyarakat, melainkan figur yang sehari-hari berada di tengah umat. Di tangan merekalah, pesan-pesan pemulihan psikososial diterjemahkan menjadi praktik yang membumi.
Di waktu yang hampir bersamaan, Rabu (8/1/2026), langkah LKK PBNU bergerak lebih jauh ke utara. Jika di Bireuen mereka menguatkan barisan relawan, maka di Kecamatan Langkahan, salah satu wilayah terparah terdampak banjir, mereka hadir langsung di tengah luka.
Langkahan belum sepenuhnya pulih. Lumpur masih menempel di dinding rumah, bau lembap masih terasa di udara, dan sungai yang meluap beberapa hari sebelumnya masih menyisakan trauma. Di sanalah Ratu Dian dan Nailatin dari LKK NU, bersama relawan LPBI NU, menjejakkan kaki.
Mereka tidak datang membawa spanduk besar atau janji pemulihan instan. Mereka datang membawa sesuatu yang kerap paling dibutuhkan dalam situasi darurat: kehadiran.
Di bawah tenda pengungsian berwarna oranye, anak-anak mulai berdatangan. Awalnya ragu, sebagian masih memeluk erat tangan ibunya. Namun ketika relawan menggelar tikar, mengeluarkan kertas gambar, krayon, dan mainan sederhana, suasana perlahan berubah.
Tawa kecil pecah. Ada yang menggambar rumah, ada pula yang mencoret langit biru dengan matahari besar, seolah ingin menciptakan dunia yang lebih aman dari yang mereka rasakan saat air datang tanpa aba-aba.
“Di sini bukan hanya soal bermain,” ujar Ratu Dian. “Ini tentang membuat mereka merasa aman kembali.”
Bagi LKK PBNU, dukungan psikososial bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian inti dari proses pemulihan. Di antara terpal dan bangunan darurat, mereka menciptakan ruang aman, ruang di mana anak-anak boleh tertawa, ibu-ibu boleh menangis, dan para lansia boleh bercerita tanpa merasa mengganggu siapa pun.
Para ibu mulai berkumpul mendampingi anak-anaknya. Mereka duduk melingkar, saling bertukar cerita: tentang malam ketika air naik tanpa aba-aba, tentang perabotan yang hanyut, tentang anak-anak yang terbangun sambil menangis. Ada suara gemetar, ada pula senyum tipis yang perlahan kembali hadir.
Sementara orang dewasa mengikuti sesi diskusi ringan, anak-anak terus bermain di bawah tenda oranye itu. Suasana yang semula sunyi kini dipenuhi tawa. Tidak ada yang berpura-pura bahwa semuanya telah baik-baik saja. Namun di sana, setidaknya, luka diberi ruang untuk bernapas.
Dua kegiatan di dua wilayah berbeda, pelatihan relawan di Bireuen dan pendampingan langsung di Langkahan, menjadi satu tarikan napas yang utuh. Dari penguatan kapasitas hingga sentuhan empati di lapangan, LKK PBNU menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana harus berjalan dari hulu ke hilir.
Di Aceh, pada hari itu, pemulihan tidak hanya dibicarakan, ia dijalankan. Dengan duduk di tanah, menggelar tikar, memegang tangan anak-anak, mendengar cerita ibu-ibu, dan menatap mata para lansia yang lelah.
Dengan keyakinan bahwa luka tidak selalu sembuh oleh kata-kata besar, tetapi oleh kehadiran yang tulus. Dan di bawah tenda oranye di Langkahan, harapan itu mulai tumbuh-perlahan, namun nyata.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua