Daerah BANJIR SUMATRA

Dua Bulan Lebih Pascabanjir Bandang, Permukiman Warga Pidie Jaya Masih Tertimbun Lumpur

NU Online  ·  Rabu, 4 Februari 2026 | 17:30 WIB

Dua Bulan Lebih Pascabanjir Bandang, Permukiman Warga Pidie Jaya Masih Tertimbun Lumpur

Rumah-rumah warga di Pidie Jaya, Aceh. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Lebih dari dua bulan telah berlalu sejak banjir bandang menerjang Kabupaten Pidie Jaya pada 26 November 2025. Namun bagi sebagian warga, bencana itu seolah belum berakhir. Lumpur masih menggunung, kayu-kayu besar terjepit di sela rumah, dan bau tanah bercampur material membusuk masih menyergap permukiman.


Di sejumlah gampong terdampak, terutama Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, rumah warga masih tertimbun lumpur setinggi atap, bahkan mencapai tiga hingga empat meter. Dinding rumah nyaris tak terlihat, jendela terkunci tanah, sementara perabotan di dalam rumah telah lama membusuk.


Ironisnya, memasuki bulan ketiga pascabencana, upaya pembersihan baru menyentuh jalan-jalan utama. Sementara di lorong-lorong permukiman padat, warga masih harus berhadapan sendiri dengan lumpur yang belum tersentuh penanganan.


“Sudah dua bulan lebih, rumah kami masih seperti ini. Lumpur setinggi atap belum dibersihkan. Yang disentuh hanya jalan besar. Kami seperti tidak dianggap,” ujar Mahmudi Ishak, warga terdampak.


Mahmudi menegaskan, warga tidak menuntut fasilitas berlebihan. Mereka hanya berharap rumah dapat dibersihkan agar kembali layak huni atau setidaknya tidak terus menjadi sumber penyakit.


“Kami mau masuk Ramadan. Masa berpuasa di rumah berlumpur begini? Kalau hujan sedikit saja, lumpur turun lagi,” katanya.


Banjir bandang Pidie Jaya membawa material berat berupa lumpur, kayu gelondongan, dan sisa bangunan yang menerjang permukiman dengan daya rusak besar. Banyak rumah tidak sekadar terendam, tetapi tertimbun hingga sulit dibersihkan secara mandiri.


Di beberapa titik, warga mengaku tidak memiliki tenaga maupun peralatan untuk membersihkan lumpur yang telah mengeras. Alat berat sangat dibutuhkan, namun hingga kini lebih banyak beroperasi di jalur utama dibandingkan permukiman warga.


“Kami sudah tua, tenaga tidak ada. Mau bersihkan pakai apa?” ujar seorang warga sambil menunjuk rumahnya yang tertutup lumpur.


Dalam dua bulan terakhir, sejumlah relawan memang datang membantu. Namun warga menilai jumlah dan jangkauannya masih terbatas. Sebagian relawan bersifat berbayar, sementara relawan sosial murni tidak mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak.


“Relawan ada, tapi pemerintah seharusnya lebih hadir. Ini bencana besar,” kata Mahmudi.


Menjelang Ramadhan, beban psikologis warga kian terasa. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan identik dengan kebersihan, ketenangan, dan kebersamaan. Namun bagi korban banjir bandang, ibadah justru dibayangi kecemasan.


“Ramadhan seharusnya bersih dan tenang. Tapi kondisi kami masih seperti ini,” ucap Mahmudi lirih.


Sebagian warga masih harus berpindah-pindah tempat tinggal, menumpang di rumah kerabat atau bertahan di hunian seadanya. Rasa lelah tidak hanya bersumber dari kehilangan materi, tetapi juga dari perasaan ditinggalkan.


“Kami tidak ingin marah. Kami hanya ingin diperhatikan,” katanya.


Warga berharap penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat, melainkan dilanjutkan dengan pembersihan menyeluruh permukiman, pemulihan psikologis, serta kepastian hunian yang layak.


Dua bulan pascabencana seharusnya cukup untuk menunjukkan kesungguhan. Lumpur setinggi atap yang masih menimbun rumah warga menjadi penanda bahwa banjir bandang Pidie Jaya belum benar-benar selesai. Di baliknya, ada warga yang masih menunggu kehadiran negara melalui kerja nyata, bukan sekadar laporan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang