Daerah

Emping Melinjo Pidie, dari Tradisi Lokal ke Pasar Mancanegara

NU Online  ·  Sabtu, 4 April 2026 | 10:00 WIB

Emping Melinjo Pidie, dari Tradisi Lokal ke Pasar Mancanegara

Pembuatan emping melinjo di Pidie, Aceh. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie, NU Online

Di balik renyahnya emping melinjo, atau dikenal masyarakat Aceh sebagai kerupuk mulieng, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, ekonomi, dan ketekunan warga. Makanan sederhana ini bukan sekadar camilan, tetapi telah menjadi identitas kuliner yang melekat kuat di Kabupaten Pidie.


Di sejumlah gampong di Pidie, aktivitas mengolah melinjo menjadi emping masih dilakukan secara tradisional. Suara tumbukan biji melinjo yang dipipihkan terdengar nyaris setiap hari, menjadi irama khas kehidupan masyarakat setempat.


Emping melinjo dikenal karena cita rasanya yang gurih sekaligus kandungan nutrisinya yang cukup tinggi, seperti serat, protein, zat besi, vitamin B, serta kalsium dan fosfor. Tak heran jika emping tidak hanya dinikmati sebagai camilan, tetapi juga menjadi alternatif pangan bagi sebagian masyarakat.


Ketua PCNU Pidie, Tgk Isafuddin, menilai emping melinjo merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan.


“Emping melinjo ini bukan hanya makanan, tetapi bagian dari identitas masyarakat Pidie. Di dalamnya ada nilai tradisi, kerja keras, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).


Menurutnya, emping melinjo juga menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Bahkan, bagi banyak keluarga di Pidie, emping melinjo menjadi sumber penghidupan.


Dari Tradisi ke Penggerak Ekonomi

Di Kabupaten Pidie, emping melinjo berkembang menjadi sektor ekonomi rakyat yang signifikan. Ribuan warga terlibat dalam rantai produksinya, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga pemasaran.


Beberapa gampong bahkan dikenal sebagai sentra produksi yang memasok emping ke berbagai daerah di Indonesia. Tak sedikit pula produk emping melinjo Pidie yang telah menembus pasar luar daerah hingga mancanegara.


Kerupuk mulieng juga menjadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dalam momentum mudik, emping melinjo kerap dibawa sebagai buah tangan untuk keluarga di kampung halaman maupun perantauan.


Penggiat sekaligus pengusaha kuliner Pidie, Tgk Mukhlisuddin Marzuki, menyebut emping melinjo memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama dengan dukungan inovasi dan pemasaran yang tepat.


“Emping melinjo dari Pidie punya cita rasa khas. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.


Ia menambahkan, pelaku usaha kini mulai memanfaatkan platform digital, seperti marketplace, untuk memperluas jangkauan pasar.


“Sekarang sudah banyak yang menjual secara daring. Ini peluang besar untuk memperkenalkan emping melinjo Pidie ke pasar yang lebih luas,” katanya.


Meski tetap mempertahankan cara produksi tradisional, emping melinjo di Pidie terus berkembang, baik dari sisi rasa, kemasan, maupun strategi pemasaran. Berbagai upaya juga dilakukan, termasuk melalui festival emping melinjo yang rutin digelar untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.


Penguatan Ekonomi dan Pelestarian Budaya

Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai emping melinjo memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga budaya.


“Produk seperti emping melinjo harus kita jaga dan kembangkan. Ini bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas masyarakat Aceh yang memiliki nilai ekonomi dan budaya,” ujarnya.


Ia menambahkan, penguatan produk lokal menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.


“Jika dikelola dengan baik, produk lokal ini bisa menjadi kekuatan ekonomi umat. Karena itu, perlu dukungan semua pihak agar terus berkembang,” katanya.


Sementara itu, Tgk Isafuddin menegaskan bahwa pengembangan emping melinjo harus tetap menjaga akar tradisi.


“Modernisasi itu penting, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai tradisi. Justru kekuatan emping melinjo ada pada budaya yang melahirkannya,” ujarnya.


Kabupaten Pidie pun kerap dijuluki sebagai Kota Emping Melinjo Aceh, mencerminkan kuatnya identitas daerah dengan produk tersebut.


Bagi masyarakat Pidie, emping melinjo bukan sekadar makanan, melainkan simbol ketahanan ekonomi dan kebanggaan daerah. Di tengah arus modernisasi, emping melinjo tetap bertahan sebagai produk lokal yang adaptif terhadap perkembangan zaman.


“Harapannya, emping melinjo tidak hanya dikenal sebagai camilan, tetapi juga sebagai produk unggulan daerah yang memiliki daya saing global,” tutup Mukhlisuddin.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang