Film Dokumenter Kiai Nashiruddin Buntet Rekam Sosok Ahli Fiqih Didikan Kiai Maimoen Zubair
NU Online · Senin, 23 Maret 2026 | 22:30 WIB
Cirebon, NU Online
Ketokohan ulama tidak selalu lahir dari gemerlap mimbar dan popularitas publik. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang sunyi pengajian, dari lembaran kitab kuning yang dibaca dengan tekun dan diajarkan dengan penuh ketegasan.
Sosok demikian tergambar dalam film dokumenter Jejak Sunyi Sang Kyai Fiqih yang mengangkat perjalanan hidup almaghfurlah KH Moh. Nashiruddin Zahid (1944–1991), ulama fiqih terkemuka dari lingkungan Pondok Buntet Pesantren, Cirebon.
KH Nashiruddin merupakan putra dari KH Ahmad Zahid bin KH Abdul Jamil, sesepuh Pondok Buntet Pesantren akhir abad 19 dan hingga awal abad 20.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Kiai Nashir mendirikan Pondok Pesantren Al Khiyaroh Buntet Pesantren Cirebon sebagai pusat kaderisasi ulama dan penguatan tradisi keilmuan fiqih, nahwu, serta disiplin keilmuan pesantren lainnya. Pesantren tersebut menjadi ruang lahirnya banyak santri yang kemudian berkiprah luas di tengah masyarakat.
Perjalanan intelektualnya juga ditempa oleh para guru besar yang berpengaruh. Di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, ia berguru kepada KH Zubair Dahlan dan KH Maimoen Zubair, dua ulama kharismatik yang dikenal kuat dalam tradisi keilmuan fikih dan kepesantrenan. Dari lingkungan inilah kedalaman metodologi berpikir dan keteguhan manhaj keilmuannya semakin matang.
Pembuatan film ini merupakan wujud terima kasih atas dedikasi seorang ayah yang berkontribusi besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
"Alasan pembuatan film Kiai Nashir, Sebagai bentuk terima kasih dan sumbangsih anak-anak kepada sosok abahnya yang sudah banyak memberikan dedikasi baik untuk keluarga dan untuk masyarakat," ujar KH Moh Farid NZ, putra Kiai Nashir, pada Senin (23/3/2026).
Film dokumenter ini menampilkan kesaksian keluarga, murid, dan para tokoh masyarakat tentang karakter dan integritas keilmuan beliau. KH Adib Rofiuddin Izza, murid sekaligus keponakan yang kini menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren, menyebut bahwa metode pengajaran KH Nashiruddin sangat sistematis dan mudah dipahami.
“Saking jelasnya beliau dalam menjelaskan ilmu, bahkan orang yang belum pernah mengaji pun dapat memahami apa yang beliau sampaikan,” tuturnya.
Menurut KH Wawan Arwani Amin, Rais Syuriah PCNU Cirebon 2017-2027, KH Nashiruddin merupakan seorang faqih sejati. Ketika berpendapat, kekuatan argumentasinya bertumpu pada referensi kitab yang kokoh dan mendalam. Pandangan-pandangannya tidak lahir dari asumsi, melainkan dari telaah literatur klasik yang matang.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren As Shighor Gedongan Cirebon KH Bisri Imam menegaskan bahwa komitmen KH Nashiruddin sebagai seorang kiai begitu kuat. Ia tidak sekadar mengajar, tetapi benar-benar menempatkan diri sebagai pendidik dan pewaris ajaran Islam yang bertanggung jawab. Baginya, mendidik santri adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan dan keteladanan.
Kesaksian lain datang dari KH Zainal Muttaqien, sahabat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Munjul Cirebon. Ia mengenang semangat keilmuan beliau sejak usia muda. Menurutnya, KH Nashiruddin dikenal memiliki etos tinggi dalam mendidik dan mentransmisikan ilmu kepada para santri, dengan kesungguhan yang konsisten dan dedikasi yang tidak pernah surut.
Testimoni juga disampaikan oleh KH Hasanuddin Kriyani, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon 2007-2012 yang menilai bahwa KH Nashiruddin adalah figur ulama yang istiqamah dalam menjaga kemurnian tradisi keilmuan pesantren. Ketegasannya dalam memegang prinsip fiqih berpadu dengan kebijaksanaan dalam membimbing santri, sehingga melahirkan keseimbangan antara keteguhan hukum dan kedalaman akhlak.
Di balik ketegasan dan kewibawaannya, keluarga dan para santri mengenang beliau sebagai pribadi yang sangat sederhana. Pola hidupnya jauh dari kemewahan dan pencitraan. Kesederhanaan itu bukan sekadar sikap personal, melainkan bagian dari keteladanan yang secara nyata membentuk karakter santri-santrinya.
Warisan keilmuan KH Nashiruddin tercermin dari kiprah para murid dan alumni Al Khiyaroh yang kini berkontribusi di berbagai bidang. Selain KH Wawan Arwani dan KH Bisri Imam, sejumlah alumni senior juga menorehkan kiprah nasional dan internasional, seperti Prof Jajang Jahroni, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Nasrullah Jassam, Konsul pada KJRI Jeddah; KH Imam Chambali AR sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al Humaidy Kendal Cirebon; serta KH Fasyani Hata sebagai Pengasuh Pondok Pesantren At Thohiri Al Muflihun Anyer Banten.
Kiprah mereka menjadi bukti bahwa tradisi pendidikan yang dibangun KH Nashiruddin melahirkan kader-kader ulama dan intelektual yang memberi dampak luas bagi umat.
Melalui dokumenter "Jejak Sunyi Sang Kyai Fiqih" , publik diajak memahami bahwa kebesaran seorang ulama tidak selalu diukur dari panggung dan popularitas, melainkan dari kedalaman ilmu, keteguhan prinsip, dan keberlanjutan kaderisasi. Jejak sunyi itu kini menjelma menjadi warisan keilmuan yang terus hidup dalam diri para murid dan alumni.
Film dokumenter ini dapat disaksikan melalui tautan berikut.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
2
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
3
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
4
Khutbah Bahasa Jawa: Kautaman Silaturahim lan Cara Nepung Paseduluran
5
Khutbah Idul Fitri: Saatnya Menghisab Diri dan Melanjutkan Kebaikan
6
Khutbah Idul Fitri 2026: Refleksi Makna Kembali ke Fitrah secara Utuh
Terkini
Lihat Semua