Hari Raya Ketupat, Tradisi Grebeg Syawal di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati Cirebon
NU Online · Ahad, 6 April 2025 | 17:00 WIB
Joko Susanto
Kontributor
Cirebon, NU Online
Hari Raya Kupat atau Ketupat adalah momen peringatan tradisi Grebeg Syawal yang awalnya dilaksanakan di Astana Gunung Sembung, kompleks makam Sunan Gunung Jati.
Tradisi ini berupa nyekar atau ziarah ke makam raja-raja Cirebon. Para pangeran keraton biasanya menjalankan puasa Syawal terlebih dahulu pada 2-7 Syawal, kemudian berbuka pada 8 Syawal. Tahun ini, 8 Syawal jatuh pada Senin (7/4/2025) besok.
Grebeg Syawal, yang telah menjadi ritual Kesultanan Kanoman selama berabad-abad, menarik perhatian dengan prosesi ziarah ke makam raja-raja Kesultanan Kanoman di kompleks Sunan Gunung Jati.
Selain berziarah, rombongan keraton juga menjalin silaturahim dengan masyarakat setelah menjalani enam hari puasa sunnah.
"Ini juga sebagai ajang silaturahim antara Sultan, keluarga, dan masyarakat dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri, atau kita kenal dengan Hari Raya Kupat, setelah enam hari berpuasa sunnah di bulan Syawal," ujar Farihin, Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin (Lesbumi) PCNU Kota Cirebon, kepada NU Online, Sabtu (5/4/2025).
Setelah melakukan ziarah, para pangeran biasanya beristirahat di pesanggrahan sambil menikmati sajian ketupat.
Farihin menjelaskan bahwa pada abad ke-18, ketika Keraton Kanoman diintervensi oleh VOC, Mbah Muqoyyim yang saat itu menjadi mufti di Keraton Kanoman keluar dari istana dan mendirikan Buntet Pesantren.
Karena Mbah Muqoyyim berasal dari bangsawan keraton, tradisi yang berlangsung di keraton turut dibawa ke pesantren, salah satunya adalah tradisi Syawalan yang lebih dikenal di Buntet Pesantren dengan istilah Raya Kupat pada 8 Syawal.
Ia menjelaskan, kupat atau ketupat dibuat oleh para kraman (juru kunci) makam Sunan Gunung Jati dan Jeneng, ketua juru kunci makam. Dalam proses pembuatannya, dilantunkan doa-doa berupa Surat Al-Fatihah dan shalawat.
Ketupat dipilih sebagai menu makanan dalam momentum Grebeg Syawal karena melambangkan doa yang diwujudkan dalam bentuk segi empat.
Ketupat juga mengandung ajaran ngaku lepat (mengakui kesalahan), sesuai dengan semangat Idul Fitri sebagai momen untuk saling memaafkan. Bahan dasar ketupat terbuat dari janur (daun kelapa muda) yang dianyam dengan teknik khusus.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua