Kayu Hanyutan Dimanfaatkan untuk Huntara, PWNU Aceh Tekankan Aspek Keamanan bagi Warga
NU Online · Sabtu, 4 April 2026 | 15:00 WIB
Sisa kayu bekas banjir bandang di kawasan Langkahan Aceh Utara yang dimanfaatkan warga setempat. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Kayu hanyutan yang terbawa arus banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh mulai dimanfaatkan sebagai material pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan pemanfaatan kayu hanyutan tersebut dirancang untuk membantu pembangunan hunian masyarakat serta kebutuhan lainnya.
“Kayu ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk membangun hunian sendiri maupun kebutuhan lainnya,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (3/4/2026).
Berdasarkan data Satgas PRR per 2 April 2026, di Kabupaten Aceh Utara tercatat sebanyak 2.112,11 meter kubik kayu telah dimanfaatkan untuk pembangunan huntara. Sementara di Kabupaten Aceh Tamiang, sekitar 572,4 meter kubik kayu masih menunggu penetapan peruntukan dari pemerintah daerah.
Selain Aceh, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 329,24 meter kubik kayu dimanfaatkan untuk pembangunan huntara, fasilitas sosial, dan fasilitas umum. Sementara di Kota Padang, Sumatera Barat, volume kayu hanyutan mencapai 1.996,58 meter kubik.
Tito menjelaskan, pemanfaatan kayu hanyutan ini mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191 Tahun 2026 yang mengatur pemanfaatan sumber daya kayu akibat bencana untuk mendukung penanganan darurat dan pemulihan.
Ia menambahkan, kayu berukuran kecil yang tidak ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti bahan baku industri atau sumber energi yang dapat mendukung pendapatan asli daerah (PAD). “Mekanismenya melalui kerja sama, dan hasilnya bisa menjadi PAD,” katanya.
Warga Manfaatkan Kayu Hanyutan
Berdasarkan pantauan NU Online di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kayu gelondongan yang terbawa banjir dan menumpuk di kawasan Krueng Mati mulai dimanfaatkan langsung oleh warga.
Sejumlah warga terlihat mengambil dan mengolah kayu hanyutan tersebut untuk dijadikan bahan bangunan rumah sederhana, terutama bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang beberapa bulan lalu.
Kayu yang sebelumnya menjadi simbol kerusakan kini berubah menjadi harapan baru. Warga secara gotong royong memanfaatkan material tersebut untuk membangun kembali rumah dengan kemampuan seadanya.
“Kayu-kayu ini sangat membantu kami. Daripada dibiarkan, lebih baik kami gunakan untuk membangun rumah kembali,” ujar Rasyidin, salah seorang warga setempat.
Namun, sebagian besar pembangunan masih bersifat sementara dan dilakukan secara mandiri, mengingat keterbatasan bantuan yang diterima warga hingga saat ini.
Rasyidin menilai pemanfaatan kayu hanyutan sebagai langkah cepat dan efisien dalam membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Dengan ketersediaan material di lokasi, pembangunan huntara dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu distribusi bahan dari luar daerah.
Menurutnya, sebagian besar kayu hanyutan di wilayah terdampak telah ditangani, sementara sisanya masih berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.
“Langkah ini juga membantu mengurangi penumpukan kayu di sungai yang berpotensi menghambat aliran air dan memicu bencana lanjutan,” lanjutnya.
Perlu Perhatian Aspek Keberlanjutan
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai kebijakan pemanfaatan kayu hanyutan merupakan langkah positif dalam kondisi darurat. Namun, ia mengingatkan pentingnya aspek keberlanjutan dan tata kelola yang baik.
“Ini solusi cepat yang patut diapresiasi karena membantu masyarakat membangun kembali tempat tinggal. Namun, tetap harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pengawasan agar pemanfaatan kayu tidak disalahgunakan, serta memastikan distribusi material benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Harus ada transparansi dan pengawasan. Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan di tengah situasi bencana,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas bangunan huntara agar tetap layak huni dan aman bagi masyarakat.
“Yang dibangun bukan hanya cepat, tetapi juga harus aman dan layak. Ini penting agar masyarakat tidak kembali terdampak ketika terjadi cuaca ekstrem,” tambahnya.
Dorong Sinergi Pemulihan Pascabencana
Tgk Iskandar juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Menurutnya, pemulihan tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
“Pascabencana ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi juga memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia berharap pemanfaatan kayu hanyutan dapat menjadi solusi jangka pendek yang diikuti dengan perencanaan jangka panjang yang lebih matang dalam penanganan bencana.
Dengan demikian, proses pemulihan tidak hanya berlangsung cepat, tetapi juga berkelanjutan serta mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 3 Jenis Ucapan yang disukai Allah
2
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
4
Khutbah Jumat: 8 Hal yang Dijauhi Rasulullah Mulai dari Kecemasan hingga Dililit Utang
5
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
6
Khutbah Jumat: Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya
Terkini
Lihat Semua