KH Marzuki Mustamar: Cinta adalah Intervensi Allah
NU Online · Senin, 7 November 2022 | 07:15 WIB
Muhammad Faizin
Penulis
Jakarta, NU Online
Cinta dan jalinan kasih insan manusia adalah misteri ilahi. Manusia tidak ada kuasa dan tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi pasangan dalam hidupnya. Bisa saja bertemu lama namun karena tidak ditakdirkan menjadi pasangan maka harus berpisah. Sebaliknya bertemu hanya sekejap mata, namun ternyata Allah menakdirkan menjadi pasangan sejati dalam hidupnya.
"Kalau cinta itu ikhtiari, sesuatu yang bisa diikhtiarkan, mestinya akan mencari yang paling cantik, kaya, pokoknya paling jos. Tapi nyatanya tidak," kata KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dalam tayangan di kanal Youtube NU Online, Kamis (3/11/2022).
"Sekali lagi soal cinta itu full 100 persen intervensi Allah. Bukan ikhtiar manusia," tegasnya.
Ketika Allah tidak melakukan intervensi dalam cinta manusia, maka manusia akan menghadapi kesulitan mendapatkan pasangan hidup. Jika Allah tidak menakdirkan, maka setiap orang tidak akan bisa menentukan passangan hidup sebelum Allah menghendakinya.
Cinta ada prosesnya
Ahli tafsir Al-Qur'an, Profesor Muhammad Quraish Shihab mengungkapkan bahwa ada proses dalam cinta. Ia mengatakan bahwa cinta adalah hal yang harus diperjuangkan dan mengungkapkan perasaan kepada yang dicintai adalah sebuah keharusan.
"Anda boleh jadi cinta seseorang, tetapi mitra Anda tidak sadar bahwa Anda mencintainya. Cinta itu ada prosesnya," ungkapnya dalam tulisan Saat Jatuh Cinta Begini Saran Prof Quraish Shihab.
Cinta menurutnya, tidak dapat terwujud apabila tidak ditemukannya sifat-sifat yang berkenan di hati dari seseorang yang dicintai. Karenanya, apabila cinta yang diharapkan dapat terjalin dengan baik agar disampaikan.
"Cinta, sambung dia, adalah permainan antara dua pihak. Cinta juga seperti mengendarai sepeda yang pada mulanya sulit, namun jika sudah mahir, maka akan lancar meski di medan terjal sekalipun. Dalam mencintai terdapat komunikasi kesalingan. Tiada cinta yang saling menekan dan memaksakan.
"Cinta adalah dialog antara dua aku; yang memaksakan kehendaknya enggan berdialog, bukan cinta namanya. Karena itu, jangan pernah memaksakan siapa yang Anda cintai untuk menjadi seperti Anda. Karena kalau menjadikannya seperti Anda, dialognya tidak akan terjadi," jelasnya.
Mahligai cinta tertinggi, ungkap penulis Tafsir Al-Misbah ini, adalah saat cinta itu besumber dari Tuhan. Cinta yang diperoleh melalui proses pendekatan diri kepada Tuhan merupakan sebenar-benarnya cinta. Ketika hendak memilih orang yang dicintai, lihatlah bagaimana hubungannya dengan Tuhan.
"Kalau Anda ingin dicintai Tuhan, berdoa pada-Nya: ‘Tuhan luluhkan hatinya agar dia mencintaiku.' Tanpa itu, bukan cinta namanya, tetapi nafsu,” ujarnya.
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua