Kunjungi Pengungsian Banjir Aceh, Ketua Umum PP Fatayat NU Soroti Kondisi Anak dan Kelompok Rentan
NU Online · Selasa, 13 Januari 2026 | 11:30 WIB
PP Fatayat NU melakukan kunjungan kemanusiaan ke sejumlah lokasi pengungsian korban banjir dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Kamis-Jumat (8-9/1/2026). (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU) melakukan kunjungan kemanusiaan ke sejumlah lokasi pengungsian korban banjir dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Kamis-Jumat (8-9/1/2026). Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah.
Dalam kunjungan itu, Margaret meninjau langsung kondisi para penyintas sekaligus berdialog dengan masyarakat terdampak. Ia mengaku prihatin karena kondisi Aceh pascabencana masih berada dalam situasi darurat, meskipun musibah banjir telah berlalu lebih dari 40 hari.
“Bantuan logistik memang sudah mulai masuk, tetapi kami masih menemukan banyak titik dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Ini membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan dari semua pihak, baik pemerintah, lembaga sosial, maupun organisasi keagamaan,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Margaret menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan semata, melainkan juga harus menyentuh aspek pemulihan psikososial para korban. Menurutnya, bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka batin, rasa kehilangan, serta trauma mendalam.
“Kehadiran negara dan seluruh elemen masyarakat sangat memengaruhi proses pemulihan penyintas. Dukungan psikologis dan sosial sama pentingnya dengan bantuan logistik,” katanya.
Dalam kunjungannya, Margaret memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, terutama perempuan, lansia, dan anak-anak. Ia menilai kelompok-kelompok tersebut sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, namun belum mendapatkan perlindungan yang memadai.
“Dalam situasi darurat, kita harus memastikan perlindungan anak-anak, khususnya balita dan usia sekolah. Gizi mereka harus terjaga, lingkungan hunian harus aman, dan kesehatan mental mereka perlu mendapat perhatian,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa keselamatan serta kesehatan fisik dan mental korban bencana merupakan tanggung jawab negara sekaligus tanggung jawab kemanusiaan bersama. Musibah ini, menurutnya, bukan hanya ujian bagi para korban, tetapi juga ujian bagi nilai solidaritas, empati, dan kepedulian sosial.
“Ini adalah ujian bagi kita semua, apakah kita masih memiliki rasa kemanusiaan untuk saling menguatkan dan meringankan beban sesama,” tegasnya.
Margaret menyebutkan, kebutuhan mendesak saat ini meliputi layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, makanan sehat, hunian sementara yang layak, serta aktivitas positif bagi para penyintas, khususnya anak-anak. Ia menilai kegiatan pendidikan darurat dan trauma healing melalui pendekatan sosial, pendidikan, dan keagamaan sangat penting untuk memulihkan kondisi psikologis korban.
“Kegiatan seperti belajar bersama, bermain, dan penguatan spiritual akan membantu para penyintas, terutama anak-anak, agar tidak larut dalam trauma,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Margaret juga mengajak seluruh anggota Fatayat NU di seluruh Indonesia serta berbagai elemen masyarakat untuk terus memantau perkembangan situasi di Aceh dan terlibat aktif dalam proses pemulihan.
“Sekitar 3.038 desa di 18 kabupaten dan kota di Aceh terdampak banjir. Masih banyak pekerjaan rumah, mulai dari perbaikan infrastruktur, normalisasi sungai, hingga pemulihan layanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar,” katanya.
Ia berharap hunian sementara yang layak dapat segera tersedia dan pembangunan hunian tetap dipercepat. Selain itu, ia menekankan pentingnya mitigasi bencana agar peristiwa serupa tidak kembali terulang. “Semoga Aceh segera pulih dan bangkit kembali,” harapnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Satgas Fatayat NU juga mengunjungi Dayah Ummul Ayman 3 di Meunasah Bie, Kabupaten Pidie Jaya, yang turut terdampak banjir, untuk melihat langsung kondisi lembaga pendidikan Islam yang mengalami kerusakan.
Sementara itu, Satgas Bencana PP Fatayat NU yang dipimpin Kasat Kornas Garda Fatayat (Garfa), Fitri Darmayanti, didampingi Ketua PW Fatayat NU Aceh, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan penggalangan donasi dan penyaluran bantuan bagi korban banjir Aceh.
“Fatayat NU berkomitmen untuk terus hadir bersama para penyintas hingga proses pemulihan berjalan lebih baik,” ujarnya.
Adapun bantuan yang disalurkan meliputi paket perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, kain sarung, dan buku Iqra, serta pakaian dan snack sehat untuk anak-anak.
Bantuan tersebut diserahkan di Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, serta Desa Teupin Raya, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen. Sebelumnya, Fatayat NU juga telah menyalurkan bantuan serupa di sejumlah titik pengungsian di Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tamiang.
Terpopuler
1
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
2
544 Orang Tewas dalam Gelombang Protes Iran, Amerika Pertimbangkan Opsi Militer
3
Guru Dituntut Profesional tapi Kesejahteraan Dinilai Belum Berkeadilan
4
Dakwaan Hukum Terhadap Dua Aktivis Pati Botok dan Teguh Dinilai Berlebihan dan Overkriminalisasi
5
Nikah Siri Tak Diakui Negara, Advokat: Perempuan dan Anak Paling Dirugikan
6
KontraS Soroti Brutalitas Aparat dan Pembungkaman Sipil Usai Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB
Terkini
Lihat Semua