Jepara, NU Online
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) kabupaten Jepara mendiskusikan tema bertajuk āPeran NU dalam pengawalan Dinamika Politik Lokalā bertempat di Musholla Gedung NU, Jalan Pemuda Nomor 51, akhir pekan lalu.
<>
Diskusi Pojok NU II tersebut dilaksanakan sejak siang menghadirkan pembicara Hasyim Asyari, akademisi Univesitas Diponegoro Semarang mengetengahkan āSejarah Sinergitas NU dalam Penguatan Kader di DPRD dan Kepala Daerahā.
Narasumber lain, Mayadina Rohma Musfirah, ketua PC Lakpesdam NU Jepara mengangkat āTradisi Gerakan Sosial, Politik dan Intelektual Kaum Muda NU dalam Menjaga Dinamisasi Daerahā dan Wartawan Suara Merdeka, Muhammadun Sanomae dengan āSinergitas Media dan NU dalam Pengawalan Dinamika Politik Lokalā.
Deputi Direktur PC Lakpesdam NU Jepara, Badiul Hadi mengatakan dipilihnya tema tersebut menurutnya cukup beralasan mengingat NU sebagai ormas terbesar harus mampu mengakomodir kepentingan baik Jamiyyah dan Jamaah. Sehingga harus sesuai Khittah 1926 NU dalam posisi netral.
Adagium āNU tidak dimana-mana tetapi ada dimana-manaā menurutnya merupakan konsekuensi dari pilihan netral. Harapannya NU harus mampu mengakomodir aspirasi jamaahnya. Meski begitu NU malah gamang dalam memposisikan diri. Sehingga lanjutnya membutuhkan ketegasan dalam menerjemahkan Khittah 1926 agar NU tidak terjerembab dalam jurang kegamangan yang makin dalam.Ā
Di sisi lain, sambung Badiul NU mengalami problem yang cukup pelik yakni dengan hadirnya beberapa partai politik yang mengatasnamakan NU dan banyaknya kader yang tersebar di pelbagai partai politik dan belum mampu memberi manfaat bagi NU secara maksimal. Ditambah pikiran dikalangan politikus NU.Ā
āKenapa kami harus berkontribusi kepada NU toh selama ini kami ada di partai juga atas inisiasi dan biaya kami sendiri,ā terangnya. Ā Ā
Lebih dari itu nilai-nilai perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah; taāaddul, tawazun, tawasuth, amar maāruf nahi munkar yang selama ini diyakini oleh jamaah NU belum maksimal terinternalisasi.Ā
Kondisi politik semacam itu keluhnya malah diserobot oleh kelompok-kelompok di luar NU. Badiul menambahkan para intelektual dan tokoh NU memandang gerakan mereka telah mengganggu eksistensi ajaran NU dan cendrung berpotensi besar menjadi acuan keberhasilan politiknya kaum muslim di Indonesia di masa depan.Ā
Karenanya, pihaknya mengajak untuk membangun kembali pemikiran dan tindakan politik NU dalam sejarah agar bersinambung dan relevan dengan gerakan sosial politik NU sekarang dan masa akan datang. Disamping itu perlu merefleksikan fenomena kehidupan sosial dan politik NU baik jamiyyah, jamaah dan partai politik di masa era kebebasan politik untuk menemukan perspektif sosial politik NU yang lebih sehat dan cerdas.Ā
āJuga perlu menguatkan ghiroh dan menemukan platform bersama perjuangan sosial politik semua elemen dan lapisan NU dimasa depan dalam konteks kejeparaan,ā harapnya. Ā
Kordinator: Syaiful Mustaqim
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
4
Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Meksiko, Tidak Ada Korban Maupun Kerusakan Langsung
5
Fachry Ali Ulas Muktamar Cipasung 1994 Jadi Perlawanan NU terhadap Intervensi Pemerintah
6
Lowongan Kerja Belum Ramah Difabel, Di Mana Letak Keadilannya?
Terkini
Lihat Semua