Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro
NU Online · Selasa, 16 Juli 2013 | 01:03 WIB
Syahdan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, beberapa sisa pasukannya menyebar ke berbagai penjuru. Diantaranya ada yang mengungsi ke wilayah Holing (Bahasa Cina), dalam bahasa jawa disebut Keling-Kalong. Ratusan pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Ageng Gombol.<>
“Mbah Gombol, nama aslinya KH Hambali,” terang Riza Baihaqi, salah satu warga setempat, Sabtu lalu (6/7).
Di papan besar yang dipasang di dekat makam, tertulis bahwa Mbah Gombol berasal dari Bagelan Purworejo. Dia adalah penasehat Pangeran Diponegoro dan ahli strategi perang gerilya. Bersama ratusan pasukannya ia berjuang melawan Belanda.
Ki Ageng Gombol yang dikejar oleh pasukan Kompeni Belanda, akhirnya sampai di wilayah Holing. Di tempat itu, mereka kemudian membuka sebuah padepokan. Daerah yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa seluas + 2 hektar itu kemudian dikeringkan.
Selang beberapa bulan kemudian, tanah yang sudah kering dapat digunakan untuk membangun rumah dan berladang. Kemudian oleh Ki Ageng Gombol, tempat yang semula bernama Penatus itu diganti dengan nama Pekajangan, dinamakan seperti itu karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi Pohon Kajang. Daerah ini sampai sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pekajangan, Kedungwuni, Kab. Pekalongan.
Padepokan itu kemudian digunakan untuk tempat ibadah lima waktu dan ilmu kaweruh (santapan rohani) yang dipimpin oleh beberapa orang guru ngaji. Diantaranya ada yang dikenal dengan nama Raden Sitojoyo (Sutojoyo), Raden Gondang Winangun dan juga Raden Suryo Mentaram. Begitu pula dengan kesenian wayang kulit yang juga di uri-uri, juga ilmu silat dan ilmu kanuragan.
Tahun 1840 Masehi bulan Dzulhijah, Ki Ageng Gombol wafat. Beliau dimakamkan di dekat padepokan. Makamnya sempat terlupakan, karena seiring bergantinya generasi. Namun, setahun silam makam tersebut ditemukan kembali oleh tim dari Pesantren Nurul Huda Sragen. Makamnya kemudian dipindahkan di dekat makam lama, bersama dua pengikutnya, yakni Kiai Ageng Basyari (Mbah Sor Pring) dan Raden Mas Suryomentaram.
“Setiap malam Jum’at Kliwon, biasanya di makam diadakan pengajian dan banyak peziarah datang” ungkap Baihaqi, yang mengaku masih termasuk keturunan Mbah Gombol itu. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
4
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua