Mengembalikan Ruh Syiar Islam Melalui Wayang
NU Online · Kamis, 9 Januari 2014 | 01:58 WIB
Solo, NU Online
Pada zaman Walisongo, wayang menjadi medium dakwah untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat awam. Dengan cara tersebut, masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengerti Islam, sebab ajarannya disampaikan dengan budaya yang mereka pahami.
<>
Konon, pagelaran wayang ini pula yang menjadi salah satu bentuk syiar dalam Sekaten. Ketika itu, masyarakat berduyun-duyun datang, begitu mendengar suara gamelan yang mengalun merdu, nglaras.
Setelah warga berkumpul, itulah kesempatan untuk mendakwahkan Islam, pagelaran wayang dengan berbagai lakon yang mengandung nilai-nilai Islam. Sebagian dari mereka yang tertarik dengan Islam pun mengucap Syahadatain, yang menjadi asal mula kata Sekaten.
Itulah yang menjadi alasan, digelarnya pertunjukan wayang 7 malam berturut-turut di Sitihinggil mulai Selasa (7/1) hingga Senin (13/1). “Saya yakin dulu di zaman para wali juga ada pertunjukan wayang setiap Sekaten,” kata Pengageng Sentana Keraton Surakarta, KGPH Puger.
Pitutur dalam Wayang
Selain itu, dijelaskan olehnya pagelaran wayang itu bertujuan mengembalikan ruh Sekaten yang dirasa telah tenggelam oleh hingar bingar Maleman (pasar malam) Sekaten. Padahal, menurut sejarah, Maleman Sekaten yang digelar sejak Desember lalu itu hanya acara pendamping saja.
“Inti dari Sekaten ini kan sebenarnya adalah syiar supaya orang itu ingat kepada Allah. Maleman itu hanya sampingan saja. Tapi sekarang Sekaten lebih identik dengan maleman daripada syiarnya,” terangnya.
Pertunjukan wayang dipilih lantaran wayang dinilai sebagai kesenian yang identik dengan pitutur dan ajaran. Di samping itu, wayang juga peninggalan Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa.
Puger juga mengatakan, wayang tersebut merupakan upaya Keraton untuk mengembalikan Sekaten kepada hakikatnya sebagai sarana menanamkan ajaran agama kepada masyarakat. Di samping itu, hal tersebut juga untuk melestarikan kesenian tradisional.
Ditambahkan olehnya, pagelaran wayang selama 7 malam ini akan menghadirkan dalang-dalang kondang, seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Eko Prasetyo, dan Ki Muhamad Nafal Wawas yang akan memainkan lakon Dewaruci. (Ajie Najmuddin/Mahbib)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah
2
Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
3
Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa
4
KPK Resmi Tahan Gus Yaqut atas Tuduhan Korupsi Kuota Haji
5
Kapan Lebaran 2026? Berikut Data Hilal 1 Syawal 1447 H oleh LF PBNU
6
Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Terkini
Lihat Semua