Daerah

Pengajian Ramadhan, Mustasyar PBNU Abu MUDI Tekankan Pentingnya Ilmu dan Keikhlasan Beribadah

NU Online  ·  Kamis, 12 Maret 2026 | 19:30 WIB

Pengajian Ramadhan, Mustasyar PBNU Abu MUDI Tekankan Pentingnya Ilmu dan Keikhlasan Beribadah

Mustasyar PBNU Abu MUDI dalam pengajian Ramadhan yang mengulas Kitab Ayyuhal Walad. (Foto: tangkapan layar)

Bireuen, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus pimpinan Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Syekh H Hasanoel Basri HG (Abu MUDI), menekankan pentingnya ilmu yang melahirkan keikhlasan dan perubahan akhlak dalam beribadah saat mengisi pengajian khusus Ramadhan 1447 H yang disiarkan melalui kanal Youtube dakwah Dayah MUDI.


Dalam pengajian tersebut, Abu MUDI mengkaji kitab Ayyuhal Walad, karya tasawuf klasik yang sarat dengan nasihat tentang keikhlasan dan adab dalam menuntut ilmu.


Pengajian Ramadhan ini merupakan bagian dari rangkaian majelis ilmu yang rutin digelar Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga selama bulan suci. Para jamaah, santri, dan masyarakat mengikuti kajian tersebut, baik secara langsung maupun melalui siaran daring yang menjangkau khalayak lebih luas.


Dalam pengajian tersebut, Abu MUDI menegaskan bahwa ilmu agama semestinya melahirkan perubahan akhlak dan ketundukan kepada Allah.


Menurutnya, seseorang yang menuntut ilmu tetapi tidak memperbaiki amal dan hatinya berarti ilmunya belum memberi manfaat yang sebenarnya.


“Ilmu itu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan. Jika ilmu tidak mengubah perilaku dan ibadah kita, maka perlu kita muhasabah diri,” pesan Abu MUDI, dikutip pada Kamis (12/3/2026).


Ia menjelaskan bahwa kitab Ayyuhal Walad mengandung pesan penting dari seorang guru kepada muridnya tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan ilmu yang benar. Kitab tersebut juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam beribadah serta menjaga hubungan dengan Allah melalui amal saleh.


Menurut Abu MUDI, Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperdalam ilmu agama.


Ia mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hati dari sifat-sifat buruk seperti riya, dengki, dan kesombongan.


“Ramadhan bukan hanya ibadah jasmani, tetapi juga ibadah hati. Maka ilmu sangat diperlukan agar ibadah yang kita lakukan benar dan diterima oleh Allah,” ujarnya.


Selain itu, Abu MUDI menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu sebagai sarana memperkuat iman dan menambah pemahaman agama.


Menurutnya, majelis ilmu merupakan tempat turunnya rahmat Allah sekaligus jalan bagi seseorang untuk memperoleh keberkahan hidup.


Pengajian Ramadhan yang dipimpin Abu MUDI selama ini dikenal luas di Aceh dan menjadi rujukan masyarakat dalam memahami ajaran Islam berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Materi yang disampaikan memadukan kajian fiqih, tauhid, dan tasawuf dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat.


Dalam berbagai kesempatan, Abu MUDI kerap mengingatkan bahwa tradisi pengajian kitab turats merupakan warisan ulama yang harus terus dijaga dan dilestarikan.


Selain memimpin Dayah MUDI Samalanga, Abu MUDI dikenal sebagai ulama yang berperan penting dalam penguatan dakwah Islam di Aceh. Ia dipercaya sebagai Mustasyar PBNU serta menjadi rujukan berbagai kalangan dalam persoalan keagamaan.


Melalui pengajian Ramadhan, Abu MUDI berharap masyarakat dapat menjadikan bulan suci sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.


Ia juga mengajak umat Islam memanfaatkan waktu Ramadhan dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu.


“Ramadhan merupakan kesempatan besar yang Allah berikan setiap tahun. Siapa yang memanfaatkannya dengan baik, maka ia akan mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat,” lanjutnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang