Ramadhan, Ribuan Warga Aceh Tamiang Masih di Tenda Pengungsian, PCNU Soroti Minimnya Bantuan
NU Online · Sabtu, 21 Februari 2026 | 17:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Tamiang, NU Online
Hampir tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, ribuan warga terdampak masih bertahan di tenda pengungsian saat memasuki Ramadhan 1447 Hijriah. Hingga Kamis (19/2/2026), realisasi pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang kehilangan rumah belum terlihat.
Di Kecamatan Karang Baru, khususnya Desa Dalam dan Desa Bundar, sebagian warga masih tinggal di tenda darurat. Sementara di Kecamatan Sekerak, Desa Sekumur menjadi wilayah terdampak paling parah. Sebanyak 1.200 jiwa atau 260 kepala keluarga bertahan di tenda yang berdiri di atas lahan bekas rumah mereka.
Sekretaris PCNU Aceh Tamiang, Tgk. Sultan, menyampaikan bantuan sahur dan berbuka dari pemerintah belum tersedia secara merata.
“Pengadaan berbuka dan sahur masih belum ada dari bantuan sampai saat ini. Semua masyarakat melaksanakan sahur dan berbuka mandiri, baik di rumah masing-masing maupun di tenda,” ujarnya.
Ia mengakui sejumlah relawan organisasi kemasyarakatan dan lembaga amil zakat mulai menyalurkan bantuan makanan di beberapa titik. Namun, distribusinya belum menjangkau seluruh penyintas.
Bertahan dan Berikhtiar
Suasana sahur Ramadhan pertama di pengungsian menggambarkan ketabahan warga. Di Desa Bundar, 27 kepala keluarga memasak secara sederhana di dalam tenda atau dapur umum swadaya.
Banjir bandang menyebabkan banyak warga kehilangan mata pencaharian. Lahan usaha rusak dan aktivitas ekonomi lumpuh. Meski demikian, warga berupaya mencari pekerjaan serabutan, seperti buruh angkut, jasa pembersih lumpur, hingga pertukangan.
“Alhamdulillah, kami sudah bisa melaksanakan ibadah puasa dengan sahur dan berbuka dari hasil pekerjaan kami sendiri. Saat ini kami mensyukurinya,” ujar salah seorang warga.
Masjid Jadi Pusat Ibadah
Di Desa Sekumur, hanya satu masjid dan dua rumah warga yang masih berdiri. Masjid tersebut kini menjadi pusat ibadah Ramadhan. Shalat tarawih tetap dilaksanakan meski jamaah harus melewati puing dan tenda darurat.
“Sampai detik ini pun kami tidak tahu di mana bentuk hunian sementara untuk Desa Sekumur ini. Belum ada pembangunan sama sekali,” ujar Wahyu Rahmah, salah seorang penyintas.
Sekretaris Desa Sekumur, M. Saiful Juari, berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan huntara serta memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi selama Ramadhan.
Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Muhammad Fajri, menyatakan akan mengecek progres pembangunan hunian sementara. Namun hingga kini, warga belum melihat tanda-tanda pembangunan dimulai.
PCNU Aceh Tamiang berharap pemerintah pusat dan daerah segera memberikan kepastian hunian serta dukungan kebutuhan dasar. Pemulihan, menurut mereka, tidak hanya membangun rumah, tetapi juga memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua