Daerah

Ramadhan Tinggal Menghitung Hari, Rakyat Keluhkan Harga Sembako dan Perputaran Ekonomi yang Seret

NU Online  ·  Jumat, 13 Februari 2026 | 17:30 WIB

Ramadhan Tinggal Menghitung Hari, Rakyat Keluhkan Harga Sembako dan Perputaran Ekonomi yang Seret

Potret warga sedang berbelanja di pasar induk Gedongmulyo, Lasem, Rembang. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)

Rembang, NU Online

Menjelang bulan Ramadhan, kenaikan harga kebutuhan pokok kembali dikeluhkan warga di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lonjakan harga tersebut dinilai berdampak pada melemahnya perputaran ekonomi dan memaksa masyarakat melakukan pengetatan pengeluaran.


Ninik, ibu rumah tangga asal Desa Gedangan, Rembang, mengatakan kebutuhan rumah tangga semakin membebani karena harga bahan pokok cenderung naik menjelang Ramadhan.


“Biaya untuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur juga bertambah. Belum lagi kalau ada kebutuhan tambahan seperti baju dan bingkisan Lebaran,” ujarnya.


Untuk menyiasati kondisi tersebut, Ninik mulai menyicil pembelian kebutuhan pokok seperti telur dan minyak goreng sebelum harga naik lebih tinggi. Ia juga memilih memasak sendiri guna menekan pengeluaran.


“Saya masak sendiri agar lebih hemat dibanding sering membeli takjil di luar,” tuturnya.


Menurutnya, beban ekonomi semakin terasa karena kenaikan harga tidak diimbangi peningkatan pendapatan, terutama di wilayah yang mayoritas warganya bekerja sebagai buruh tani.


“Banyak keluarga harus lebih pintar mengatur keuangan. Ada juga yang mencoba mencari tambahan penghasilan dengan berjualan musiman saat Ramadan,” katanya.


Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi konkret, seperti pasar murah, agar masyarakat bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.


Senada dengan itu, Choky, pegawai sebuah perusahaan ritel di Rembang, mengaku kondisi ekonomi menjelang Ramadan terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.


“Hampir seluruh harga di pasar mengalami kenaikan, mulai dari minyak goreng, beras, hingga kebutuhan pokok lainnya,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (13/2/2026).


Ia mengatakan kebutuhan tersier terpaksa dikurangi karena kebutuhan primer saja belum tentu tercukupi. Pola konsumsi pun berubah akibat penyesuaian pengeluaran.


“Sekarang harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk ditabung, supaya bisa memenuhi kebutuhan hari berikutnya,” imbuhnya.


Selain kenaikan harga, faktor cuaca dengan intensitas hujan tinggi turut memengaruhi kondisi sosial-ekonomi warga, khususnya di wilayah Sarang. Banyak warga yang menggantungkan penghasilan pada sektor informal dan harian menjadi kesulitan bekerja, sehingga daya beli menurun.


Choky menilai rendahnya daya beli masyarakat dipengaruhi ketimpangan distribusi pendapatan dan tingginya angka pengangguran. Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan mengakses layanan ekonomi secara optimal.


Dampak situasi ini juga dirasakan pelaku UMKM. Aktivitas pasar disebut cenderung lebih sepi karena masyarakat menahan belanja.


Warga berharap pemerintah dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat daya beli, baik melalui pembukaan lapangan kerja maupun kebijakan yang mendorong perputaran ekonomi lokal.


Bagi sebagian masyarakat, kondisi saat ini dinilai cukup selama kebutuhan primer dapat terpenuhi. “Bagi saya, cukup itu ketika kebutuhan pokok sudah tercukupi,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang