Daerah MUKTAMAR KE-35 NU

Saat Fatayat NU Papua Tengah Kenakan Noken di Muktamar Ke-35 NU

NU Online  ·  Senin, 31 Agustus 2026 | 21:00 WIB

Saat Fatayat NU Papua Tengah Kenakan Noken di Muktamar Ke-35 NU

Fatayat NU Papua Tengah memkai noken yakni tas khas Papua. (NU Online/Siti Ratna Sari)

Jombang, NU Online

Pengurus Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Papua Tengah kenalkan tas khas dari Papua, yaitu noken. Mereka memakai tas itu selama Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung, 27-31 Agustus 2026..

 

Ketua PW Fatayat NU, Sholikah menyebut, PWNU dan PW Fatayat NU Papua Tengah memakai noken tersebut karena akan menjadi keunikan tersendiri.

 

“Kami ingin menunjukkan ciri khas ini kepada Muktamirin yang hadir dari seluruh daerah. Mungkin yang lain memakai tas pada umumnya, kita ingin tampil beda,” katanya kepada NU Online, Sabtu (28/8/2026).

 

Ia mengatakan, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Papua Tengah harus memakai noken setiap hari Senin.

 

Noken merupakan tas tradisional khas Papua yang terbuat dari rajutan atau anyaman serat kulit kayu, daun, atau akar tanaman. Biasanya terbuat dari serat pohon seperti genemo atau nenduam.

 

“Ada juga yang dari kulit pohon anggrek, tapi itu mahal sekali harganya,” imbuhnya

 

Ia menjelaskan bahwa noken merupakan simbol adat yang diberikan sebagai tanda kasih sayang, lambang rahim ibu, lambang perdamaian dalam penyelesaian konflik, atau syarat kedewasaan bagi perempuan Papua.

 

“Tahun 2012, UNESCO menetapkan noken sebagai warisan budaya takbenda yang membutuhkan perlindungan mendesak,” jelasnya.

 

Proses Pembuatan Noken

Proses pembuatan noken cukup panjang. Mulai dari para perempuan Papua atau biasa disebut Mama-Mama pergi ke hutan untuk mengambil kulit pohon genemo, nanduam, atau daun pandan hutan. 

 

“Setelah itu kulit kayu dipukul-pukul menggunakan kayu atau batu, lalu direndam dalam air untuk memisahkan serat-serat halusnya,” jelasnya.

 

Serat kayu yang sudah bersih dijemur di bawah sinar matahari hingga kering total. Setelah itu serat kering dipilin menggunakan telapak tangan di atas paha secara perlahan hingga membentuk benang yang kuat dan tebal

 

Lalu, benang-benang itu diwarnai menggunakan bahan alami, seperti kunyit untuk warna kuning, arang untuk warna hitam, atau buah-buahan hutan untuk warna hitam.

 

“Nah, membuatnya itu masih menggunakan proses manual. Dirajut satu persatu-satu menggunakan tangan. Biasanya mama-mama mengerjakan itu sambil momong anak,” imbuhnya.

 

“Pengerjaan noken cukup memakan waktu, namun tergantung dari besar kecilnya noken itu sendiri,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang