Tradisi Ruwahan Jelang Ramadhan, Warisan Budaya Sambut Bulan Suci
NU Online · Ahad, 8 Februari 2026 | 04:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Rembang, masih melestarikan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan ruwahan. Tradisi ini dimaknai sebagai momentum mendoakan para leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Secara etimologis, ruwahan berasal dari kata ruwah, yang berakar dari bahasa Arab dan bermakna jamak dari ruh, yakni arwah atau jiwa. Dalam konteks budaya Jawa, ruwahan merujuk pada tradisi mendoakan leluhur yang dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Sya'ban.
Budayawan Rembang, Yon Suprayoga, menjelaskan bahwa ruwahan merupakan warisan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Rembang.
“Ruwahan bukan sekadar ritual, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan dan kepedulian sosial,” ujar Yon kepada NU Online, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, meskipun setiap desa memiliki tata cara pelaksanaan yang berbeda, esensi ruwahan tetap sama, yakni mendoakan leluhur dan mempererat tali silaturahmi. Di Desa Soditan dan Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Rembang, misalnya, warga menyajikan kue apem dan ketan sebagai hidangan khas, serta menambahkan jajanan pasar seperti nagasari dan pisang raja.
Senada dengan itu, Deni Tri Subiakmo, warga Desa Krikilan, Kecamatan Sumber, mengatakan bahwa ruwahan memiliki makna penting menjelang Ramadhan.
“Kami setiap bulan Syaban, atau dalam kalender Jawa disebut bulan Ruwah, melaksanakan ruwahan dengan tahlilan, membersihkan makam, dan kenduri,” tuturnya.
Kenduri atau slametan merupakan ritual syukuran yang diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi dan keselamatan yang diberikan. Warga biasanya berkumpul di punden, masjid, atau rumah tokoh masyarakat untuk berdoa bersama yang dipimpin tokoh agama atau sesepuh adat.
Tradisi ruwahan tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga menjadi perekat sosial yang kuat di tengah masyarakat. Warga berharap tradisi ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya yang sarat makna.
“Melalui tradisi ini, kami berupaya menjaga harmoni antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan para leluhur,” pungkas Deni.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua