Daerah

Tradisi Weh-wehan Asyura Sambut 10 Muhharam di Batang, Warga Berbagi Jajanan Gratis

NU Online  ·  Kamis, 25 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tradisi Weh-wehan Asyura Sambut 10 Muhharam di Batang, Warga Berbagi Jajanan Gratis

Tradisi Weh-wehan Asyura di Batang Warga membagikan aneka jajanan gratis. (Foto: Romli)

Batang, NU Online
Masyarakat Dukuh Dlisen, Desa Dlisen, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah memiliki tradisi unik setiap malam 10 Muharram atau Hari Asyura. Melalui kegiatan bertajuk Weh-wehan Asyura, warga secara sukarela membagikan aneka jajanan gratis kepada santri, anak-anak, dan masyarakat umum sebagai wujud sedekah.

 

Salah seorang warga Dlisen, Romli, mengatakan bahwa tradisi tersebut berawal dari pemahaman masyarakat terhadap hadits riwayat At-Thabrani dan Al-Baihaqi yang menyebutkan bahwa siapa yang melapangkan kebutuhan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.


"Sebagian masyarakat Dukuh Dlisen berinisiatif bersedekah jajanan di depan rumah. Tujuan awal untuk memberikan jajanan sedekah kepada para santri di pondok Dlisen dan anak-anak Dukuhk Dlisen," ujar Romli kepada NU Online, Rabu (24/6/2026).

 

Menurut Romli yang juga menjabat Wakil Sekretaris Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pengembangan Kader Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Batang, tradisi tersebut terus bertahan dari tahun ke tahun. Jika pada awalnya hanya diikuti sebagian warga, kini semakin banyak masyarakat yang turut berpartisipasi dengan membuat dan membagikan berbagai jenis jajanan.


"Setelah beberapa tahun berjalan, masyarakat yang ikut membuat jajanan. Dan terbuka untuk umum, tidak hanya untuk anak-anak dan santri, tapi juga seluruh warga antusias menyambut weh-wehan," katanya.


Romli menambahkan bahwa tradisi tersebut telah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun pada 10 Muharram. Ia berharap semakin banyak warga yang tergerak untuk bersedekah dan berbagi kepada sesama.


"Dan tahun ini dari dukuh tetangga banyak warga Masyarakat yang ikut datang memeriahkan weh-wehan Asyura ini," ujarnya.


Berbeda dengan kegiatan sosial yang dikelola oleh kepanitiaan, Weh-wehan Asyura berlangsung secara swadaya. Warga yang memiliki rezeki lebih secara sukarela menyediakan jajanan untuk dibagikan kepada masyarakat.

 

"Tidak ada panitia, ini murni kesadaran masyarakat yang merasa punya rezeki lebih untuk bershodaqoh, saling berbagi dalam rangka menyambut tahun baru, dan dikhususkan di tanggal 10 Asyura," jelasnya.

 

Sebagian besar jajanan yang dibagikan merupakan hasil buatan warga sendiri. Namun, ada pula masyarakat yang membeli jajanan dari pelaku UMKM setempat untuk kemudian dikumpulkan di beberapa titik rumah dan dibagikan kepada pengunjung.

 

Romli menambahkan selain menjadi sarana berbagi, tradisi Weh-wehan Asyura juga membawa manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi para santri, jajanan yang dibagikan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi santri yang belum menerima kiriman dari keluarga. Sementara bagi anak-anak, kegiatan tersebut menjadi pembelajaran tentang nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.


"Untuk warga, sebagai bentuk kegiatan rutinan yang ditunggu-tunggu. Karena saling berbagi antara orang yang memiliki rezeki lebih bershodaqoh, dimaknai sebagai festival jajanan atau weh-wehan Asyura," pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang