Sebaliknya untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar Kiai Wahab menganjurkan NU terlibat dalam DPRGR maupun dalam Kabinet, yang penting masuk dulu berjuang dari dalam kalau tidak cocok keluarnya gampang. Akhirnya NU terlibat dalam politik Bung Karno, namun secara Pribadi Kiai Bisri tetap pada pendiriannya, tetap berbeda dengan Kiai Wahab.<>
Namun demikian jangan mengira ia mengambil sikap oposisi pada pemerintah, tidak, buktinya pendiri NU ini mengecam tindakan Imron Rosjadi aktivis NU yang menjadi ketua Liga Demokrasi, ini sudah gerakan oposisi yang merongrong kewibawaan pemerintah dan bisa membahayakan keamanan negara. Apalagi ketika Kiai Bisri tahu bahwa dalam Liga demokrasi itu berkumpul para simpatisan pemberontak PRRI-Permesta, maka ketidaksukaannya semakin besar.
Berkaitan dengan strategi berpolitik itu Kiai Bisri mengingatkan para kader muda NU saat itu antara lain KH Hafidz Usman dan kawan kawannya yang rajin sowan ke pesantrennya, agar tetap tegas dalam berpendirian, tetapi tetap luwes dalam menyikapi keadaan negara NU tidak terjebak pada radikalisme dan ekstremisme, karena ujung-ujungnya akan menjadi pemberontak seperti DI, PRRI Permesta, PKI dan sebagainya. Menurut Kiai Bisri sebenci apapun terhadap pemerintah yang berkuasa, NU tidak boleh melakukan bughot (memberiontak) ini hukumnya haram, tetapi melakukan amar makruf nahi munkar wajib hukumnya. (Abdul Mun’im DZ)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit
4
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
5
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
6
CELIOS: 50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Rakyat, Indonesia Menuju Republik Oligarki
Terkini
Lihat Semua