Patoni
Penulis
Pada Muktamar ke-29 NU tahun 1994 di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Gus Dur sedang tidak disukai oleh Presiden Soeharto yang karena kerap melontarkan kritik dan menentang rezim otoriternya.
Penyebab lain, seperti yang ditulis oleh Adam Swarcht dalam bukunya Waiting fot Nation, Gus Dur menilai Pak Harto “bodoh” sehingga ketika Muktamar dibuka, Gus Dur tak boleh duduk mendampingi Pak Harto.
Gus Dur disingkirkan ke deretan kursi paling belakang bersama Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDI) kala itu. Tokoh-tokoh yang mendampingi Pak Harto hanya KH Ilyas Ruchiyat dan Rozy Munir.
Begitu pula setelah acara pembukaan selesai dan Pak Harto istirahat di Aula STAI Cipasung diiringi Kiai Ilyas Ruchiyat, Gus Dur tidak boleh masuk, melainkan berdiri saja di halaman.
Seketika itu para wartawan langsung mengerubungi Gus Dur sambil bertanya, “Gus, nggak boleh dekat-dekat presiden ya?”
“Ah, nggak masalah,” jawab Gus Dur cuek.
“Nggak masalah gimana, Gus?” tanya wartawan menimpali.
“Daripada mikirin ingin dekat-dekat presiden, lebih baik jadi presiden sekalian nanti,” ucap Gus Dur mantap.
Selorohan Gus Dur menjadi kenyataan, lima tahun kemudian yaitu pada 1999, secara demokratis, Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI. (Fathoni)
Sumber: buku “Gus Dur Menertawakan NU” (2010)
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
2
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
3
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
4
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
5
Soroti Penilaian Juri LCC di Kalbar, KPAI: Mental dan Kepentingan Anak Harus Diutamakan dalam Kompetisi
6
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, DPR Akan Panggil BI dan Menkeu
Terkini
Lihat Semua