Ketika Gus Dur Menolak Ajakan Pak Harto
NU Online · Jumat, 26 Juni 2020 | 06:50 WIB
Patoni
Penulis
Alkisah, sahabat dekat Gus Dur, dokter Fahmi D. Saifuddin membujuk setengah mendesak agar Gus Dur menerima ajakan Presiden Soeharto masuk Golkar dan menjadi anggota MPR.
Itu terjadi pada tahun 1987, tiga tahun setelah Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU hasil Muktamar ke-27 NU di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur.
Tentu Gus Dur menolak dan ingin tetap menjadi kritikus Orde Baru sebagai pemimpin gerakan rakyat.
Gus Dur menjawab Fahmi, “Aku emoh, wis kono takon Gus Mus wae, nek (Gus Mus) setuju, aku manut” (aku nggak mau, sudah sana tanya Gus Mus aja, kalau (Gus Mus) setuju, saya nurut).
Fahmi lalu menemui Gus Mus. Dia mengatakan Gus Mus bahwa jika Gus Dur menjadi anggota MPR, dia akan bisa mempengaruhi pemikiran orang-orang di sana (MPR) sekaligus bisa berdiskusi dengan Soeharto.
Namun Gus Mus sendiri mengakui sulit, meski bagi orang secerdas Gus Dur. Singkatnya, Gus Mus tidak setuju Gus Dur menjadi anggota MPR, apalagi masuk Golkar. Namun rupanya Fahmi tak putus harapan. Dia terus membujuk Gus Dur.
Menurut Gus Mus, tujuan Fahmi sebenarnya tidak seserius itu. Dia hanya ingin agar Gus Dur nantinya sering memakai sepatu ke mana-mana, tidak pakai sandal terus.
Di balik keinginan sederhana itu, tersimpan impian dan rencana besar dr Fahmi agar Gus Dur mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa besar. (Fathoni)
*) Disarikan dari buku KH Husein Muhammad, "Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus" (Noura Books, 2015)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
2
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri: Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil
Terkini
Lihat Semua