Internasional

Dari Pelabuhan Spiritual Peti Kemas hingga Stasiun Pengajian

NU Online  ·  Selasa, 10 Maret 2026 | 09:00 WIB

Dari Pelabuhan Spiritual Peti Kemas hingga Stasiun Pengajian

Jamaah Mushalla Al-Ikhlas di Kawasan Campoa, Donggan, Taiwan. (Foto: istimewa)

Donggang, NU Online

Peti kemas yang terletak di Kawasan Campoa, Donggan, Taiwan disulap menjadi mushalla. Adalah para anak buah kapal (ABK) Muslim dari Indonesia yang membuatnya menjadi ruang untuk beribadah sejak dua tahun lalu.


Kebutuhan spiritual yang mendesak di kalangan para pekerja laut menginisiasi mereka untuk mengubah peti kemas menjadi sarana shalat. Tak pelak, ruang yang dinamai Mushalla Al-Ikhlas itu menjadi pelabuhan spiritual bagi awak kapal.


Bagi para ABK, mushalla ini bukan sekadar tempat shalat, tetapi juga menjadi ruang berkumpul, tempat berbagi cerita, sekaligus pelipur rindu akan kampung halaman. Terlebih di bulan Ramadhan, suasana ibadah di mushalla terasa lebih hidup dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, shalat berjamaah, hingga kajian sederhana. Hal demikian memperkuat spiritualitas mereka yang sehari-hari bergelut dengan ombak dan kesendirian di tengah laut.


Rofiq, salah satu pengurus Mushalla Al-Ikhlas Campoa, mengaku selama ini mereka beribadah dengan keterbatasan. Kehadiran dai yang diutus langsung Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) memberikan sentuhan pengetahuan ibadah dan spiritual bagi ia dan rekan-rekannya.


“Kami sangat senang dan terharu akhirnya ada dai yang datang langsung menyapa kami di sini. Selama ini kami beribadah dengan keterbatasan. Banyak di antara kami yang ingin belajar bagaimana menjalankan ibadah dengan benar saat di laut. Kehadiran para dai sangat membantu,” ujarnya pada Kamis (26/2/2026).


Ia juga menambahkan bahwa mushalla ini menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual bagi para ABK.


“Di sinilah kami berkumpul, shalat, dan saling menguatkan. Tempat ini seperti rumah kedua bagi kami,” tambahnya.


Kehadiran dai tersebut diharapkan dapat kembali guna memberikan pendampingan keagamaan, agar kehidupan spiritual mereka tetap terjaga meskipun berada jauh dari keluarga dan tanah air.


Sementara itu, di wilayah darat, Taman Stasiun Pingtung destinasi pengajian. Tak kurang dari 40 Muslim, dari pekerja migran Indonesia hingga mahasiswa, turut mengikuti pengajian kitab Safinatun Naja yang disampaikan Ustadz Muhammad Taqiyuddin, dai utusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kegiatan ini diinisiasi bersama PCINU Taiwan Ranting Pingtung sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan keagamaan bagi diaspora Indonesia di wilayah tersebut. 


Salah satu topik yang cukup menyita perhatian adalah persoalan bersuci dari najis, khususnya najis babi dan anjing. Tema ini dinilai sangat relevan mengingat Taiwan memiliki lingkungan sosial yang berbeda dengan Indonesia, di mana produk berbahan babi cukup umum dijumpai. 


Dalam pemaparannya, Ustadz Taqiyuddin menjelaskan secara rinci tata cara bersuci sesuai tuntunan fiqih, termasuk bagaimana menyikapi kondisi darurat dan perbedaan mazhab dalam praktik sehari-hari. Ia juga membuka ruang diskusi sehingga peserta dapat menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi secara langsung. 


“Harapan saya kegiatan ngaji ini dapat menjadikan kegiatan ibadah kita bisa menjadi lebih baik utamanya dalam bersuci dari najis khususnya pada najis babi dan anjing karena hidup  dan bekerja di Taiwan membuat kami sering was-was dalam beribadah” ujar Makmuri, ketua PCINU Taiwan Ranting Pingtung.


Melalui Safari Ramadhan ini, PBNU dan PCINU Taiwan menunjukkan komitmen mereka dalam mendampingi diaspora Indonesia agar tetap terhubung dengan nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus mampu menjawab tantangan kehidupan di luar negeri dengan bijak dan penuh ketenangan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang