Hassan Hanafi Wafat, Ini Kiprah Akademiknya sebagai Intelektual Islam Kontemporer
NU Online · Ahad, 24 Oktober 2021 | 07:00 WIB
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Cendikiawan Muslim Mesir Hassan Hanafi yang juga Profesor Filsafat di Universitas Kairo, meninggal pada hari Kamis (21/10/2021) dalam usia 86 tahun.
Presiden Universitas Kairo, Muhammad Othman Elkhosh mengeluarkan obituari atas berpulangnya Hanafi.
Muhammad Othman mengatakan bahwa almarhum mengurangi sebagian besar waktu dan kenyamananya saat berada di luar Mesir untuk membawakan referensi yang dia minta darinya. Al-Khasht juga mengatakan bahwa almarhum memiliki kontribusi intelektual yang besar.
Dilansir See News, Hassan Hanafi menerima gelar Bachelor of Arts di Departemen Filsafat Universitas Kairo pada tahun 1956, dan menjadi menjadi guru besar Filsafat di Universitas Kairo pada tahun 1967.
Hassan Hanafi mendapatkan Penghargaan Penghargaan Negara dalam Ilmu Sosial pada tahun 2009 dan Penghargaan Nil dalam Ilmu Sosial pada tahun 2015. Di antara buku-bukunya adalah Heritage and Renewal, From Creed to Revolution, Encyclopedia of Arab-Islamic Civilization, dan From Transport to Creativity.
Tentang Hassan Hanafi
Melansir digilib.uinsby, Hasaan Hanafi lahir di Kairo pada 13 Februari 1935. Ia merupakan keturunan dari Suku Berber dan Badui di Mesir. Memasuki usia lima tahun, ia belajar mengaji Al-Qur’an pada Shaikh Sayyid, ulama masa itu.
Pendidikan dasarnya ia lalui di Madrasah Sulaiman Gawiys, kemudian dilanjutkan pada sekolah guru bernama al-Muallimin. Menginjak kelas lima, Hassan Hanafi pindah ke Madrasah al-Silahdar.
Memasuki pendidikan tinggi di Jurusan Filsafat Fakultas Seni Universitas Kairo Mesir, ia diketahui memiliki prestasi akademik yang baik. Hampir seluruh makalah-makalah yang ia tulis mendapatkan nilai summa cum laude, salah satunya tentang Teori Pengetahuan dan Kebahagiaan menurut al-Ghazali.
Hanafi kemudian melanjutkan pendidikan master dan doktornya di Universitas Sorbonne Paris. Menuntaskan pendidikannya di Paris tersebut, membuat gagasan-gagasan Hasan Hanafi berkembang pesat.
Diketahui, ia menuliskan desertasi setebal 900 halaman dengan judul L Exegeses de la Phenomenologie: Letat Actuael de la Methode Phenomenologie et Son Application an Phenomena Religuex.
Disertasi monumental Hasan Hanafi itu ditujukan untuk menghadapkan ilmu ushul fiqih pada mazhab fenomenologi Edmund Husserl.
Disertasi yang disambut baik oleh akademisi Mesir ini berhasil mendapatkan penghargaan sebagai karya terbaik di Mesir pada tahun 1961.
Pencapaiannya tersebut kian menguatkan posisi Hassan Hanafi sebagai intelektual Islam kontemporer yang besar pengaruhnya pada perkembangan pemikiran Islam.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Fathoni Ahmad
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua