Hikmah Ramadhan dari Korsel: Jangan Menyantap Sup Kimchi Terlebih Dahulu
Jumat, 28 Maret 2025 | 11:30 WIB
Gimpo, NU Online
Ada sebuah kata mutiara lama yang cukup terkenal di tengah masyarakat Korea Selatan yang berbunyi 김치국부터 마시지 말라/ Kim-chi-gug-bu-teo ma-si-ji mal-la. Terjemahannya adalah “Jangan menyantap sup Kimchi terlebih dahulu”.
Kalimat itu jika diubah ke dalam bahasa Indonesia, akan sama dengan ungkapan “Barangsiapa yang bersabar niscaya ia akan beruntung”. Peribahasa ini disebutkan dalam konteks seorang yang belum yakin mendapatkan makanan semacam kerupuk beras, atau makanan kering lainnya, sebaiknya ia bersabar terlebih dahulu dan jangan menghabiskan sup Kimchinya.
Mengutip dari buku A Guide to Korean Culture, orang Korea Selatan memiliki menu khusus yang menjadi santapan wajib mereka yaitu Kimchi (김치). Makanan ini dibuat dari bahan utama sawi putih atau lobak, dicampur dengan bumbu seperti cabai bubuk, bawang putih, dan dibiarkan berfermentasi.
Ada salah satu jenis Kimchi tradisional yang disebut dengan Dongchimi (동치미), yaitu sejenis Kimchi yang berkuah dan tidak menggunakan cabai, sehingga rasanya pun tidak pedas. Dongchimi inilah yang dimaksud dalam pribahasa diatas.
Lalu mengapa Dongchimi ini disantap setelah makan? Dalam budaya masyarakat Korea kuno, sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa kuah Dongchimi ini diminum setelah mereka benar-benar yakin telah mendapatkan hidangan kering seperti kue beras atau ubi jalar. Nah, kuah tersebut diminum belakangan agar memudahkan perncernaan setelah mengkonsumsi makanan kering. Dapat dibayangkan, jika sup dihabiskan terlebih dahulu, lalu kemudian menyantap kue beras dan ubi, tentunya tenggorokan akan tersedak.
Yang agak mengagetkan Dongchimi ini ternyata cukup sulit ditemukan di supermarke-supermarket maupun restoran daerah sekitar Gimpo, Tongjin, mungkin juga sulit ditemukan di Seoul, bukan karena sedang Ramadhan, namun rupanya jenis Kimchi berkuah ini lebih sering dimasak secara tradisional di dapur-dapur keluarga Korea. Adapun Kimchi yang dijajakan di jalan-jalan adalah Kinchi yang berbumbu cabai.
Peribahasa tersebut seakan mengajarkan kita jika ingin sukses, maka harus sabar dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Allah Swt dalam Surat as Sajdah menyatakan bahwa “Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami”. (QS 32:24). Sebagaimana disebutkan dalam ayat, ada dua kata penting yang dapat digaris bawahi; petunjuk dan sabar. Keduanya sangat berkaitan dalam arti kesabaran ini akan menyebabkan turunnya petunjuk dari Allah Swt.
Pada saat menjelaskan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip sebuah pendapat bahwa tidak sepantasnya seseorang dijadikan pemimimpin jika dirinya belum bisa menjaga diri dari ketergesaan dalam urusan keduniaan.
Oleh sebab itu, ketika kita dihadapkan sebuah keputusan, sabar adalah kunci suksesnya. Sabar bukan berarti diam berpangku tangan, namun lebih kepada tidak gegabah ketika memutuskan dan tidak emosi ketika merespon. Apalagi di momentum Ramadhan ini, dimana Rasulullah pun menjulukinya dengan “Bulan Kesabaran”.
Miftahuddin, Dai Internasional LD PBNU 2025 dengan penugas ke Korea Selatan. Program ini bekerja sama dengan NU Care-LAZISNU.
Terpopuler
1
Bacaan Takbiran Idul Fitri Arab, Latin, dan Artinya
2
Begini Tata Cara Pelaksanaan Shalat Idul Fitri
3
Lembaga Falakiyah PBNU Dorong Pelaksanaan Rukyatul Hilal Awal Syawal 1446 H
4
Khutbah Idul Fitri 1446 H Bahasa Sunda: Takwa sareng Akhlak Mulya Janten Atikan Ramadhan
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2025: Menyambut Kemenangan dengan Kebahagiaan dan Syukur
6
3 Amalan Sunnah Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri
Terkini
Lihat Semua