Internasional

Jejak Gotong Royong di Negeri Ginseng: Kisah para PMI Membangun Islam di Korea Selatan

Rabu, 26 Maret 2025 | 08:30 WIB

Jejak Gotong Royong di Negeri Ginseng: Kisah para PMI Membangun Islam di Korea Selatan

Aktivis PCINU yang juga para pekerja migran membuat Islam bergeliat di Korea Selatan. (Foto: dok M Muslim Aljihaad)

Seoul, NU Online
Dinginnya angin musim semi tak menyurutkan langkah kaki delapan dai muda yang baru saja tiba di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan pada awal Ramadhan 2025 ini. Wajah lelah mereka berpadu dengan senyum haru saat disambut hangat oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan.


Bagi mereka, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah amanah suci: menyebarkan dakwah Islam yang ramah di tengah komunitas pekerja migran Indonesia (PMI) di negeri ginseng.

 

"Terima kasih atas kesediaan para dai untuk berkhidmat," ucap Rais Syuriyah PCINU Korea Selatan, Kiai Ulin Nuha. Suaranya sarat akan kebanggaan.


"Jangan lupakan ciri khas NU: ngaji kitab dan dakwah yang ramah. Di sini, Islam adalah minoritas. Kita harus benar-benar memahami keterbatasan jamaah," dia berpesan.

 

Di balik gemerlap lampu kota Seoul, ribuan PMI berjuang mencari nafkah, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Mereka bekerja keras dengan jam kerja 12 jam sehari, bahkan ada yang sampai 16 jam. Di tengah rutinitas yang melelahkan, dahaga spiritual pun membuncah. Di sinilah peran para dai menjadi begitu vital.

 

"Kami berpesan, jangan bebani jamaah dengan materi yang rumit, yang berat, mereka sudah lelah dengan pekerjaan mereka, kita berharap hadirnya mereka ke masjid bisa menjadi hiburan yang menyegarkan," tutur Ketua Tanfidziyah PCINU Korea Selatan, Kiai Ansori, suaranya tegas namun penuh kasih. "Sampaikan dakwah yang relevan dengan kehidupan mereka," pesannya.

 

Katib Syuriyah PCINU, Kiai Ngalimu menambahkan, "Para dai harus memahami kondisi psikologis dan sosial PMI. Mereka butuh solusi dan pencerahan."

 

Di antara delapan dai itu, ada saya, seorang pemuda asal Palembang, M Muslim Al-Jihaad. Bagi saya, ini adalah kali kedua menginjakkan kaki di tanah Korea. Setahun lalu, saya datang sebagai utusan Kemenpora-RI dan PCINU. Saya bersyukur, kali ini kembali dengan misi yang sama: menebar benih-benih kebaikan.

 

Pengalaman ini membuka mata saya, saya bergumam lalu mengakui bahwa peran PMI dalam dakwah Islam di Korea Selatan sungguh luar biasa.

 

Kisah yang paling menyentuh hati ini adalah tentang semangat gotong royong yang tumbuh subur di kalangan PMI. Di tengah keterbatasan, mereka bahu-membahu membangun masjid, oase spiritual di tengah gurun modernitas. Dari obrolan dengan PCINU Korsel, mayoritas masjid di sini adalah hasil jerih payah para PMI. Mereka tak hanya membangun tempat ibadah, tapi juga simbol persatuan.

 

Kisah Masjid Al-Khaliq Gimcheon menjadi bukti nyata. Suatu hari, seorang warga Yaman bernama Hail menegur jamaah asal salah satu negara Arab yang terkesan mendominasi.


"Kita harus berterima kasih pada orang Indonesia," kata Hail, "Jika bukan karena mereka, kita tak punya tempat untuk shalat, kita tidak bisa beribadah, jadi berterima kasihlah dengan orang Indonesia. Kita ikut cara beribadah mereka di sini."


Bahkan, aparat keamanan Korea pun turut mengapresiasi orang-orang Indonesia. Suatu Jumat, rombongan polisi datang ke Masjid Al-Khaliq, memberikan kenang-kenangan kepada seorang pengurus masjid yang akan kembali ke Indonesia. Mereka kagum melihat bagaimana jamaah dari berbagai negara bisa rukun di sini, orang Indonesia bisa mengayomi semua jamaah, tidak hanya sesama Indonesia saja" kenang Muslim mengingat jawaban polisi yang diterjemahkan oleh jamaah.


Semua ini adalah bukti bahwa dakwah Islam bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tanah rantau. Seperti halnya Islam di Indonesia yang dibawa oleh pedagang. Islam di Korea Selatan, salah satunya, dibawa oleh PMI. Mereka adalah duta-duta Islam yang ramah dan penuh kasih sayang.

 

Cerita saya dan para dai lainnya adalah secercah harapan di tengah badai kehidupan para PMI. Di tangan merekalah, Islam yang teduh dan menyejukkan hati terus bersemi di bumi Korea.


M Muslim Aljihaad, Dai NU Go Global 2025 dengan penugasan ke Korea Selatan. Program ini hasil kerja sama LD PBNU dan NU Care-LAZISNU.