Internasional

Pelajar Indonesia dalam Kondisi Aman Usai Serangan Arab Saudi ke Pelabuhan Mukalla Yaman

NU Online  ·  Rabu, 31 Desember 2025 | 07:00 WIB

Pelajar Indonesia dalam Kondisi Aman Usai Serangan Arab Saudi ke Pelabuhan Mukalla Yaman

Potret kondisi sejumlah kendaraan yang hancur akibat serangan Arab Saudi ke Pelabuhan Mukalla, Hadramaut, Yaman, Selasa (30/12/2025). (Foto: tangkapan layar Al-Arabiya)

Jakarta, NU Online

Imam Rahmatullah menginformasikan bahwa kondisi pelajar Indonesia di Mukalla terpantau aman usai terjadinya insiden Arab Saudi membombardir pelabuhan Mukalla, Hadhramaut, Yaman, pada Selasa (30/12/2025).


"Alhamdulillah, untuk saat ini masih kondusif dan aman. Untuk kegiatan juga masih berjalan dengan lancar Alhamdulillah," ungkap Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman untuk wilayah Mukalla itu kepada NU Online.


Pemuda asal Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut juga menyampaikan bahwa Universitas Al-Ahghaf mengeluarkan surat edaran agar para mahasiswa tidak bepergian ke daerah rawan.


"Hari ini dari Universitas Al Ahgaf, tempat kami belajar, juga sudah mengeluarkan surat edaran agar para mahasiswa tidak bepergian jauh agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, kemungkinan lembaga lain juga mengimbau hal yang sama," ujarnya.


Hal serupa juga disampaikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat. Kata Imam, tak ada imbauan evakuasi dari pihak KBRI, hanya saja para pelajar Indonesia diimbau agar lebih berhati-hati saat bepergian.


"Belum ada imbauan evakuasi dari KBRI, masih imbauan agar berhati-hati dalam bepergian. Imbauan terakhir agar tidak bepergian dan tidak mendekati daerah konflik," terangnya.


Ia lantas menginformasikan bahwa tempat tinggal Warga Negara Indonesia berjarak cukup jauh dari daerah konflik, sehingga minim dampak.


"Tidak sampai memberikan dampak bagi kami di sini. Kalaupun kendala kami rasa masih dikatakan batas wajar, belum ada kendala yang membuat kami kesulitan. Begitupun dengan situasi di sini masih dalam batas normal," ujar Imam.


Terkait korban, Imam mengaku belum ada informasi yang menyampaikan adanya korban atau tidak. 


Melansir AP News, pada Selasa (30/12/2025), Saudi Arabia melancarkan serangan udara di pelabuhan Mukalla, Yaman, setelah menuduh bahwa kargo berisi senjata untuk kelompok separatis tiba dari Uni Emirat Arab (UEA). 


Koalisi yang dipimpin Riyadh menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan “operasi militer terbatas” yang menargetkan senjata dan kendaraan tempur yang dibongkar dari dua kapal di pelabuhan tersebut. Senjata itu disinyalir akan digunakan oleh Southern Transitional Council (STC), kelompok separatis yang didukung UEA. 


Reuters melaporkan bahwa pihak Saudi mengeluarkan peringatan keamanan nasional dan menyerukan agar UEA menarik pasukannya dari Yaman dalam 24 jam, untuk menandai konfrontasi langsung antara Riyadh dan Abu Dhabi, dua sekutu Teluk yang sebelumnya bersatu dalam koalisi anti-Houthi. 


Sementara itu, UEA membantah tuduhan bahwa muatan tersebut berisi senjata. Mengutip Al Jazeera, pihak UEA menyatakan bahwa kendaraan yang dibongkar di pelabuhan tidak dimaksudkan untuk pihak Yaman, serta menyerukan agar semua pihak bertindak “bertanggung jawab” untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. 


Menyusul eskalasi tersebut, Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman mengumumkan pembatalan perjanjian pertahanan bersama dengan UEA dan memerintahkan seluruh pasukan UEA ditarik dari wilayahnya dalam 24 jam. Keputusan ini disampaikan oleh Ketua Dewan, Rashad al-Alimi, dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional. 


Al-Alimi juga menyatakan keadaan darurat nasional selama 90 hari dan memberlakukan blokade udara, laut, dan darat selama 72 jam di semua pelabuhan serta perbatasan negara sebagai respons terhadap situasi yang berkembang. 


“Semua pasukan Emirat dan personel mereka harus segera menarik diri dari seluruh wilayah Yaman dalam waktu dua puluh empat (24) jam," ujarnya sebagaimana dikutip NU Online dari A News.


Namun pernyataan ini kemudian ditolak oleh Southern Transitional Council (STC), yang menyebut bahwa UEA tetap merupakan mitra utama dalam menghadapi pemberontak Houthi dan menolak batas waktu penarikan pasukan tersebut. 


Ketegangan ini menunjukkan perpecahan dalam koalisi anti-Houthi di Yaman. Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional, sedangkan UEA secara terbuka memberikan dukungan kepada STC, yang kini mulai menguasai beberapa wilayah selatan Yaman. Menurut laporan AP News, perselisihan ini diperkirakan dapat memperluas konflik di tengah perang saudara yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang