Pengamat Nilai Gemuknya Kabinet Merah Putih Berpotensi Tumpang Tindih dalam Bekerja
NU Online · Jumat, 25 Oktober 2024 | 07:00 WIB
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna perdana di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2024). (Foto: instagram @gibran_rakabuming)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Chicago, NU Online
Lebih dari 100 pejabat Kabinet Merah-Putih dilantik Presiden Prabowo Subianto dalam membantu tugasnya memimpin Indonesia. Jumlah itu lebih banyak dari beberapa kabinet presiden sebelumnya. Hal itu karena ada sejumlah pemecahan kementerian dan penambahan badan.
Pengamat Kebijakan Publik Faqih Alfian menilai hal itu berpotensi terjadinya tumpang tindih dalam bekerja antara satu lembaga dengan lainnya.
"Overlapping (tumpang tindih) pasti akan terjadi di jajaran kabinet baru, terlebih di kementerian yang pada kabinet sekarang terpecah," katanya kepada NU Online pada Kamis (24/10/2024).
Meskipun demikian, menurutnya, hal tersebut wajar terjadi. Namun, ia menegaskan agar tumpang tindih itu segera diselesaikan demi terciptanya efektivitas pekerjaan bisa tercapai.
"Ada beberapa kementerian dan biro-biro atau badan-badan khusus yang menurut saya pribadi tidak menjadi penting untuk ada, karena apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh kementerian terkait," katanya.
Fakta tersebut juga menguatkan cara kerja kabinet sekarang yang berupaya untuk mengakomodasi dan memberikan ruang kepada semua elemen pendukung.
"Hemat saya, langkah cerdas untuk meminimalisir kelompok oposisi pemerintah ke depannya," ujar mahasiswa doktoral University of Illinois in Chicago itu.
Ia menyampaikan bahwa pembentukan kabinet merupakan kewenangan penuh presiden. Hal ini dikarenakan kabinet merupakan alat bantu kerja presiden. Besar tidaknya jumlah itu perlu dilihat berdasarkan visi-misi dan program kerja presiden.
"Hal ini menjadi argumen penting bagaimana kabinet itu dibentuk," kata dosen Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur itu.
Karena itu, Faqih menilai bahwa pembentukan dan penataan kembali kabinet harus bersumber pada program kerja dan argumentasi akademik.
"Bila tidak maka efisiensi dan efektivitas pekerjaan tidak akan tercapai," katanya.
Secara sederhana, katanya, memecah kementerian kehutanan dan lingkungan hidup menjadi dua, mungkin akan menjadikan kerja lebih maksimal. Sebab, kehutanan dan lingkungan hidup punya dua fokus berbeda.
"Namun, di kementerian yang lain akan menjadikan hal yang lebih rumit, dikarenakan akan ada overlapping pekerjaan," pungkasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua