Jakarta

Ketua PWNU Jakarta Jelaskan 3 Kesamaan Puasa dan Sabar

NU Online  ·  Selasa, 3 Maret 2026 | 05:30 WIB

Ketua PWNU Jakarta Jelaskan 3 Kesamaan Puasa dan Sabar

Ketua PWNU Jakarta KH Samsul Maarif. (Foto: Masjid Raya KHI)

Bekasi, NU Online Jakarta

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif menjelaskan bahwa puasa dan sabar memiliki persamaan mendasar, baik secara bahasa maupun secara makna spiritual.


Pertama, secara bahasa, kata puasa berasal dari kata shaum yaitu menahan diri, sedangkan shabr juga bermakna menahan atau mengekang diri.


 “Dari sisi makna dasar secara bahasa, puasa dan sabar sama-sama mempunyai arti menahan," ujar Kiai Samsul dalam Kajian Tematik yang digelar Masjid Raya Kota Harapan Indah, Kota Bekasi, Sabtu (28/2/2026).

 

Ia mencontohkan kisah Siti Maryam dalam Al-Qur’an ketika bernazar untuk berpuasa dengan tidak berbicara, sebagaimana termaktub dalam Surah Maryam ayat 26. Menurutnya, sikap diam Maryam adalah cerminan dari puasa dalam bentuk menahan diri untuk menghadapi gunjingan masyarakat.

 

“Kadang dalam hidup, diam itu pilihan terbaik. Tidak semua kritik harus dibalas. Didengar saja, direnungkan,” katanya.

 

Kedua, Kiai Samsul juga menjelaskan persamaan kedua antara puasa dan sabar, yakni pada pahala yang dirahasiakan Allah. Ia mengutip hadis Qudsi bahwa berpuasa itu untuk Allah dan Allah sendiri yang membalasnya. Balasan puasa, kata dia, tidak disebutkan secara terperinci karena kemuliaannya.


"Kenapa dirahasiakan? Karena puasa adalah ibadah rahasia. Kita kadang-kadang susah membedakan orang yang puasa dengan orang yang tidak puasa. Kalau shalat kan jelas, Oh, sedang shalat. Oh, tidak shalat," jelasnya.


Hal ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 10 yang menerangkan bahwa  orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas dari Allah.

 

"Maknanya tanpa terhitung sama dengan dirahasiakan. Saking luar biasanya pahalanya dirahasiakan oleh Allah persis sama dengan yang orang yang mengerjakan ibadah puasa." jelasnya.

 

Ketiga, adalah pengampunan dosa. Ia mengutip hadits yang menjelaskan barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap rida Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Demikian pula orang yang sabar ketika tertimpa musibah. Bahkan, lanjutnya, tertusuk duri pun bisa menjadi sebab penghapus dosa apabila disikapi dengan sabar.

 

“Setiap ujian mengandung hikmah pengampunan. Termasuk musibah besar yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah maupun di Palestina dan Sudan, Allah ampuni dosanya,” ujarnya.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang