Detoks Alami Pascalebaran, Dokter Tekankan Pentingnya Pola Makan Seimbang
NU Online · Kamis, 2 April 2026 | 18:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Lontong opor, semur, dan sambal kentang telur balado menjadi hidangan khas yang identik dengan perayaan Idulfitri bersama keluarga. Namun, makanan yang cenderung gurih, tinggi lemak, dan kaya lemak jenuh tersebut kerap menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan tubuh.
Untuk mengatasi konsumsi makanan berminyak dan manis selama Lebaran, sebagian masyarakat memilih melakukan detoksifikasi, yakni proses penetralan serta pengeluaran racun dari dalam tubuh.
Secara bahasa, detoxification berarti menghilangkan racun. Namun, gula dan lemak sejatinya bukanlah zat beracun, melainkan tetap dibutuhkan tubuh dalam proses metabolisme.
Dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Rembang, Iffa Luthfiyah, menilai pemahaman mengenai program detoks perlu diluruskan, terutama di kalangan masyarakat awam. Menurutnya, konsumsi gula dan lemak berlebih memang perlu dikendalikan, tetapi tidak harus dihilangkan sepenuhnya.
“Sudah ada panduan piring sehat dari World Health Organization (WHO). Saat Lebaran, biasanya seseorang mengonsumsi makanan dengan porsi yang kurang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat,” ujarnya.
Ia mencontohkan menu lontong opor, di mana lontong sebagai sumber karbohidrat disandingkan dengan lauk bersantan yang mengandung protein sekaligus lemak. Namun, kandungan lemak dalam hidangan tersebut cenderung didominasi lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan tidak baik bagi tubuh.
“Jika dikonsumsi berlebihan, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Dari menu lontong opor saja, kebutuhan serat seperti sayur dan buah belum terpenuhi,” jelasnya.
Iffa menekankan bahwa prinsip utama yang perlu diterapkan adalah diet seimbang, bukan mengikuti tren diet tertentu. Variasi makanan diperlukan agar kebutuhan makronutrien tubuh tetap terpenuhi.
“Jangan terlena dengan menu Lebaran yang tinggi karbohidrat dan lemak. Camilan atau kue Lebaran juga umumnya tinggi gula dan lemak,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penerapan diet seimbang bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Bagi orang sehat, cukup mengikuti panduan piring sehat dengan variasi menu, disertai pola tidur dan manajemen stres yang baik.
“Sementara bagi penderita diabetes melitus, hiperkolesterolemia, obesitas, atau penyakit metabolik lainnya, diet perlu diatur secara khusus sesuai rekomendasi dokter atau ahli gizi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa organ tubuh sebenarnya mampu mengatur metabolisme gula dan lemak secara alami. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes melitus, dislipidemia, dan gangguan metabolik lainnya.
“Dalam jangka panjang, penyakit metabolik dapat muncul disertai komplikasi yang lebih kompleks,” katanya.
Karena itu, masyarakat dianjurkan mengatur pola makan secara mindful, termasuk membatasi konsumsi gula untuk mencegah lonjakan kadar gula darah.
“Makan makanan utama terlebih dahulu, seperti nasi, lauk, dan sayur, lalu camilan manis sebagai penutup. Lebih baik memperbanyak konsumsi buah agar pencernaan tetap baik serta membatasi asupan lemak berlebih,” jelasnya.
Selain itu, konsumsi jus buah dan susu murni dapat menjadi pelengkap dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang.
“Intinya, lebih menekankan pentingnya diet seimbang daripada program detoks. Pola makan, pola tidur, dan manajemen stres yang baik menjadi kunci,” pungkasnya.
Ia juga menyarankan, jika sudah terlanjur mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, segera lakukan pemeriksaan kesehatan seperti kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Selain itu, lakukan mitigasi dengan mengatur pola makan sehat, berolahraga secara teratur, dan mengelola stres untuk menjaga kesehatan tubuh.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
3
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
4
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Urutan Bulan Haram, Mana yang Pertama?
5
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
6
Gus Yahya Pilih Jaga Jarak atas Kasus Gus Yaqut, Tak Libatkan NU dalam Urusan Keluarga
Terkini
Lihat Semua