Kemenkes Diminta Serius Tangani Superflu Usai Muncul Korban Meninggal
NU Online · Rabu, 14 Januari 2026 | 19:00 WIB
M Fathur Rohman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap penyebaran virus yang dikenal sebagai superflu. Munculnya korban meninggal dunia dinilai menjadi indikator penting bahwa penyakit tersebut tidak dapat dipandang ringan.
Yahya menegaskan bahwa kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia) dan penderita penyakit penyerta (komorbid) berada pada risiko lebih besar jika penanganan tidak dilakukan secara serius dan menyeluruh.
“Kasus kematian ini membuktikan bahwa superflu sangat membahayakan, khususnya bagi mereka yang memiliki komorbid. Karena itu, Kemenkes harus meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, terutama di daerah-daerah yang sudah terjangkit,” kata Yahya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Ia menilai Kemenkes tidak cukup hanya memantau angka kasus, tetapi juga perlu menyampaikan informasi yang jelas, proporsional, dan berbasis data kepada publik terkait potensi risiko superflu. Dalam konteks tersebut, Yahya menyoroti pernyataan Menteri Kesehatan yang sebelumnya menyebut superflu tidak berbahaya.
“Dengan bukti adanya korban meninggal, superflu termasuk penyakit yang membahayakan,” tegasnya.
Yahya juga mendorong Kemenkes segera menyiapkan langkah-langkah antisipatif apabila penyebaran superflu semakin meluas. Ia menekankan pentingnya kesiapan fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit rujukan, ketersediaan tenaga medis spesialis, obat-obatan, hingga vaksin apabila diperlukan.
Selain pemerintah pusat, ia menilai pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam mengendalikan penyebaran superflu. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing serta memastikan fasilitas kesehatan siap menangani warga yang terinfeksi.
“Pemda harus bersiap, termasuk menyiapkan rumah sakit bagi warganya yang terkena superflu,” ujarnya.
Di sisi lain, Yahya juga mengimbau masyarakat agar tidak lengah dan tetap menjaga kesehatan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga rutin, menghindari kerumunan, serta menggunakan masker di tempat ramai sebagai langkah pencegahan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menyatakan bahwa superflu bukan virus mematikan seperti Covid-19. Ia menyebut superflu merupakan bagian dari virus influenza yang telah lama dikenal dalam dunia medis.
“Ini sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 yang dulu varian Delta mematikan,” ujar Budi dalam konferensi pers penanganan pascabencana Sumatra di Gedung BNPB, Rabu (7/1/2025).
Budi menjelaskan bahwa secara ilmiah superflu termasuk influenza tipe A, yakni virus H3N2 yang telah beredar selama puluhan tahun. Istilah superflu, menurutnya, merujuk pada subvarian atau subclade baru, bukan jenis virus baru seperti SARS-CoV-2. “Bahasa saintifiknya influenza tipe A, jadi bukan satu virus baru seperti Covid-19,” katanya.
Terpopuler
1
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
2
Pemerintah Iran Respons Protes Ekonomi dan Kebebasan Sipil di Sejumlah Kota
3
Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan
4
Gerakan Nurani Bangsa Tolak Pilkada lewat DPRD: Rakyat Harus Diberi Ruang Memilih Secara Langsung
5
Dakwaan Hukum Terhadap Dua Aktivis Pati Botok dan Teguh Dinilai Berlebihan dan Overkriminalisasi
6
Nikah Siri Tak Diakui Negara, Advokat: Perempuan dan Anak Paling Dirugikan
Terkini
Lihat Semua