Ancaman El Nino Menguat, BMKG Ingatkan Risiko Gagal Panen dan Suhu Ekstrem
NU Online · Jumat, 8 Mei 2026 | 22:00 WIB
Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026). (tangkapan layar youtube IklimKita by LaporIklim)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan ancaman El Nino dan anomali iklim tahun ini berpotensi memperparah musim kemarau di Indonesia. Kondisi tersebut dapat memicu krisis air, penurunan produksi pertanian, hingga meningkatnya risiko kesehatan bagi para petani akibat suhu panas ekstrem.
Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto mengatakan bahwa pada Februari lalu BMKG sudah memprediksi musim kemarau tahun ini berpeluang dibarengi fenomena El Nino.
“Di bulan Februari saat basah-basahnya musim hujan, BMKG sudah memiliki prediksi kapan musim kemarau akan datang. Yang menarik, musim kemarau tahun ini ada potensi dibarengi dengan El Nino,” ujarnya dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026).
Baca Juga
Ini Doa Cegah Gagal Panen
Ia menjelaskan, kondisi suhu permukaan laut di Samudera Pasifik pada Maret masih berada pada fase netral setelah sebelumnya dipengaruhi La Nina. Namun, pada pertengahan tahun atau awal Juni, kondisi itu diperkirakan beralih menuju fase El Nino.
Menurutnya, Samudera Pasifik memiliki tiga fase utama, yakni La Nina, netral, dan El Nino. “La Nina biasanya berasosiasi dengan musim kemarau yang lebih basah di Indonesia. Sebaliknya, ketika El Nino muncul, biasanya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya,” jelasnya.
Siswanto menyampaikan bahwa peluang munculnya El Nino berada pada kisaran 50 hingga 60 persen dengan kategori lemah hingga moderat. “Saat ini, pembaharuan data peluang tersebut meningkat menjadi 70 hingga 90 persen. Jadi, sepertinya kita yakin El Nino datang beneran,” ucapnya.
BMKG belum menyimpulkan El Nino tahun ini akan masuk kategori ekstrem seperti yang ramai disebut sejumlah pihak sebagai “super El Nino” atau bahkan “Godzilla El Nino”.
“BMKG tetap mengacu pada standar operasional. Sampai saat ini, prediksi El Nino masih berada pada kategori lemah hingga moderat,” tegas Siswanto.
Ia mengingatkan dampak terbesar berpotensi terjadi di sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga 35 sampai 50 persen, bahkan memicu gagal panen di sejumlah daerah.
Selain itu, anomali suhu juga menjadi ancaman serius. Siswanto mencontohkan suhu maksimum harian di Indramayu, Jawa Barat pada 2015 pernah mencapai 39,9 derajat Celsius. Tren kenaikan suhu siang hari maksimum bahkan tercatat meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius setiap 10 tahun.
“Ini mengkhawatirkan petani. Kalau mereka harus bekerja di sawah dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius, risiko heat stroke meningkat dan kemampuan bekerja menurun,” katanya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua