Bahasa Madura dalam Puisi D Zawawi Imron, Jejak Kejujuran Penyair
NU Online · Ahad, 24 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Penyair kelahiran Madura Jawa Timur D Zawawi Imron kerap memasukkan diksi dari bahasa daerahnya dalam beberapa puisi karya-karyanya. Hal ini menjadi keunikan sebab ia mengaku sebenarnya dianggap kurang berhasil saat pada awalnya menulis syair dalam bahasa Madura.
Lalu apakah penggunaan bahasa Madura dalam puisi-puisinya sengaja dilakukan dan bertujuan memperkuat identitas nasional?
Baca Juga
Puisi-Puisi D Zawawi Imron
Dalam tayangan YouTube NU Online diakses Ahad (24/8/2025), Kiai Zawawi dengan rendah hati mengaku sebenarnya tidak ada maksud untuk memperkuat identitas nasional atau tujuan tertentu. Ia memilih diksi bahasa Madura karena ia tak menemukan diksi padanannya dalam bahasa Indonesia.
“Itu karena bahasa Indonesia saya tidak menemukan. Akhirnya ditulis itu,” tutur Kiai Zawawi.
Penggunaan bahasa Madura juga tidak dimaksudkan untuk berhebat-hebat ria, tetapi lebih karena keterbatasan saat menulis.
Baca Juga
Teks Pidato Kebudayaan D. Zawawi Imron
Dia mencontohkan pada sebuah puisinya yang ditulis tahun 70-an pada petikan puisi “Maka berangkatlah Pangeran Batu Putih berpengiring tombak, berpengiring pedang.”
“Sebenarnya kalimat itu bukan kalimat bahasa Melayu, bukan kalimat bahasa Indonesia. Berpengiring itu berasal dari ungkapan Madura, apangereng. Maka, mios pangeran betopote, apangereng kres, apangereng pedang,” ujarnya.
Jika menggunakan struktur bahasa Indonesia petikan itu akan ditulis “Berangkatlah Pangeran Batu Putih diiringkan tombak, diiringkan pedang.”
Puisi tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka Jakarta dan pernah dijadikan sebagai bacaan perpustakaan anak-anak. “Dan itu tidak saya ubah (tapi) orang menerimanya kata-kata berpengiring tombak, berpengiring pedang yang seharusnya (dalam strutur bahasa Indonesia) diiringkan tombak, diiringkan pedang,” sebut Kiai Zawawi.
Kiai Zawawi juga menjawab pertanyaan NU Online tentang apa peran sastra dalam menyatukan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan saat ini. Menurutnya, jika karya sastra, termasuk puisi, memang mengajak kepada persatuan dan perdamaian, sebagian orang yang mengerti akan mendapat ilham serta mendapat tuntunan dari karya sastra tersebut. Pembaca dan masyarakat bisa sadar tentang pentingnya perdamaian.
“Jadi, tidak langsung semua karya sastra itu bisa membuat perdamaian. Tapi, sastra itu juga kalau dia mengajak untuk sadar dalam beragama, mungkin sebagian agak tersentuh untuk sadar dalam hidup beragama itu,” jelasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua