Banjir Terjang Jabodetabek, Pakar: Tata Ruang Berubah Jadi Tata Uang
NU Online · Rabu, 5 Maret 2025 | 17:00 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Banjir yang menerjang sebagian besar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Senin (3/3/2025) bahkan masih terjadi di sebagian kecil wilayah hingga Rabu (5/5/2025) menyisakan beragam problematika.
Pakar Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna mengatakan bahwa penyebab dari banjir kemarin adalah tata ruang yang buruk akibat mengabaikan ruang air di seluruh area Jabodetabek.
"Ruang kota itu sekarang menjadi komoditas ekonomi, tata ruang berubah jadi tata uang," katanya saat dihubungi NU Online, Rabu (5/3/2025).
Akibat pengurangan itu, lanjutnya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menjadi daerah resapan air bahkan menjadi ruangan bagi air semakin hari kian krisis bahkan krisis.
"Rata-rata ruang tata hijau di kota-kota Jabodetabek sudah kurang dari 10 persen," katanya.
Baca Juga
Banjir Rendam 21 Kelurahan di Jakarta
Nantinya, kata Yayat, RTH yang berkurang akan berdampak kepada daerah-daerah resapan air yang sudah semestinya menyesuaikan dengan tata ruang kota.
"Kota-kota kita buruk dalam pembangunan drainase (sistem pembuangan air yang dapat dilakukan secara alami atau buatan). Kalah dengan pembangunan jalan, jalan pun dibangun tanpa drainase," katanya.
Terkait drainase, Yayat mengatakan bahwa jumlah sudah sangat sedikit bahkan tidak terawat karena kurangnya pemeliharaan dari dinas-dinas terkait.
"Penyebabnya karena anggaran APBD juga terbatas, sehingga kota tumbuh kembang mengikuti bagaimana maunya masyarakat atau investor," jelasnya.
Jabodetabek Harus Ada Kebijakan Sinergi
Yayat menyarankan bahwa pemerintah daerah yang berkaitan, dalam hal ini Jabodetabek harus ada kebijakan sinergi.
"Dewan Aglomerasi harus dijalankan dengan tugas khusus menangani masalah mendasar perkotaan. Seperti Persampahan, Drainase, Tata Ruang, Perumahan, Transportasi , Penanganan Daerah Aliran Sungai," katanya.
"Tanpa sinkronisasi dan kerjasama antar daerah. Maka sulit kita mengajak kerja sama dengan melibatkan masyarakat," tambahnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua