Nasional

BMKG Deteksi Bibit Siklon 92S di Barat Daya Lampung, Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Selatan

NU Online  ·  Kamis, 16 April 2026 | 11:30 WIB

BMKG Deteksi Bibit Siklon 92S di Barat Daya Lampung, Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Selatan

ondisi Bibit Siklon 92S pada Kamis (16/4/2026) di wilayah Samudra Hindia barat daya Lampung. (Foto: BMKG)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya Bibit Siklon Tropis 92S di Samudra Hindia barat daya Lampung atau selatan Sumatra yang berpotensi memicu peningkatan gelombang laut di sejumlah perairan, meski tidak berdampak langsung ke daratan.


Melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, BMKG menyampaikan bahwa bibit siklon tersebut mulai terbentuk pada Senin (14/4/2026) pukul 00.00 UTC atau 07.00 WIB dan saat ini masih berada dalam pemantauan.


“Saat ini, posisinya berada di sekitar Samudra Hindia barat daya Lampung,” terang BMKG melalui akun media sosial Instagram, Kamis (16/4/2026).


Secara karakteristik, Bibit Siklon Tropis 92S memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis. Sistem ini diprakirakan bergerak ke arah barat dalam 24 jam ke depan, menjauhi wilayah Indonesia. Meski demikian, potensi dampak tidak langsung tetap perlu diwaspadai, terutama pada sektor kelautan.


Dalam 24 jam ke depan hingga Jumat (17/4/2026) pukul 07.00 WIB, bibit siklon ini berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut hingga 1,25-2,5 meter atau masuk kategori sedang.


“Wilayah yang terdampak meliputi Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Tengah, perairan selatan Banten hingga Jawa Tengah, serta Selat Sunda bagian selatan,” jelasnya.


Kondisi tersebut perlu diwaspadai, khususnya oleh nelayan dan pelaku transportasi laut yang beraktivitas di jalur perairan selatan Indonesia. Gelombang kategori sedang dapat mengganggu stabilitas kapal kecil hingga menengah, terutama jika tidak diantisipasi dengan kesiapan keselamatan yang memadai.


BMKG menegaskan, meskipun bibit siklon ini tidak mengarah ke daratan Indonesia, pengaruhnya terhadap pola angin di laut tetap dapat meningkatkan aktivitas gelombang. Hal ini menunjukkan bahwa risiko bencana hidrometeorologi tidak selalu datang dari dampak langsung, melainkan juga dari dinamika atmosfer yang memicu perubahan kondisi laut secara cepat.


Fenomena ini terjadi di tengah kondisi cuaca Indonesia yang masih berada dalam masa peralihan musim. Pada fase ini, dinamika atmosfer cenderung lebih aktif dan kerap memicu perubahan cuaca ekstrem dalam waktu singkat, termasuk peningkatan tinggi gelombang.


BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan menghindari aktivitas berisiko di perairan saat gelombang meningkat. Kewaspadaan menjadi kunci, terutama bagi masyarakat pesisir dan pengguna transportasi laut, agar potensi dampak tidak langsung dapat diminimalkan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang